Sunday, October 04, 2009

The First Three Months

Saya sudah melewati tiga bulan masa percobaan menempati rumah baru ;) Rasanya makin nyaman, setelah pelan-pelan mentransformasi bangunan itu dari sebuah 'house' menjadi 'home'.



Trus Ajeng? *pertanyaan terbanyak
Saya titip ke mertua pas mau berangkat kerja. Baju, perlengkapan mandi, mainan, buku, dan susunya sudah saya bagi dua di rumah mertua dan di sini. Budi yang akan jemput Ajeng sepulang kerja. Jadi, (tengah) malamnya udah kembali ke rumah waktu saya pulang.

Makan apa di sana? *pertanyaan terjahat
Apa saja kecuali babi. Sepupu yang main ke rumah hari Lebaran lalu, histeris lihat saya punya bumbu dapur. Dia tidak percaya kalau ayam goreng yang dihabisin anaknya satu jam kemudian, saya tumbuk sendiri bumbunya kuat-kuat sampai hancur lebur.

Rumah baru memaksa saya akrab dengan kompor. Saya akhirnya masak sayur bayam! Entah itu sebuah prestasi atau justru aib sebenarnya ya, karena merupakan yang pertama kali setelah 31 tahun saya hidup di dunia fana ini, setelah lima tahun menikah, dan setelah teruji terbukti terjamin bisa bikin anak :))

Saya juga jadi kenal pala, walau belum bisa secara fasih membedakan kencur, kunir (sama ya dengan kunyit?), kunci, lengkuas dan jahe. Solusinya, saya pisahin mereka semua di tempat-tempat berbeda lalu saya labeli sesuai namanya. Tapi sebagian besar belum terpakai sampai sekarang karena nggak tahu mau diapain dan buat bikin apa ("Yang penting punya buat kapan-kapan kalau butuh," alasan tidak kreatif saya, pas Budi curiga saya beli itu semua cuma buat gaya-gayaan, biar dikira bisa masak yang susah-susah).

Saya juga punya langganan tukang sayur (yang tidak pernah saya tawar ikannya karena takut malah jadi bertengkar) dan tukang krupuk (yang saya rindukan sekali selama libur Lebaran, karena dia mudik lama sampai saya harus menggoreng sendiri krupuk untuk Budi yang nggak bisa makan tanpa krupuk).

Akrab sama tetangga? *pertanyaan terwajar
Nyaris. Setelah hampir dua tahun beli, saya baru ngeh minggu lalu kalau ternyata posisi rumah saya dinamai Tusuk Sate versi feng shui. Jadi, pas di depan rumah, nggak ada rumah lagi sampai ujung jalan sekitar 500 meter. Di kiri, sawah (makanya malam-malam saya sering denger suara kodok dari kamar) dibatasi tembok perumahan. Di kanan, rumah belum ditinggali karena yang punya tugas keluar pulau. Lagian, sore pas tetangga-tetangga nyangkruk, saya justru waktunya ngantor. Ketemu reporter supersibuk andalan RCTI yang rumahnya hanya enam blok dari saya ini aja, nggak sempat-sempat. Saya ketemu dia justru pas sama-sama liputan konser Anggun C Sasmi.

Sex life? *pertanyaan terusil
Ehm. Lebih banyak ciuman, lebih sering pelukan. Living room? Check. Bathroom? Check. Kitchen? Check. Bedroom? Check. Tapi kemajuan secara detail tentang urusan begituan ternyata tidak seheboh khayalan saya. Saya yakin ini bukan kemunduran. Paling fantasi saya aja yang berlebihan. Sori kalau itu bikin pembaca kecewa *ngetik sambil ngakak beneran.

Cuci baju sendiri? *pertanyaan terbasi
Dari dulu saya nggak ada bakat untuk urusan begini. Semua saya laundry-kan, kecuali lingerie dan rekan-rekan. Saya sudah melewati masa merasa-menjadi-istri-yang-baik-karena-bisa-mengerjakan-setumpuk-pekerjaan-rumah-yang-tidak-ada-habisnya. Dulu saya pernah nyetrika mulai jam 01.00 WIB sepulang kerja sampai subuh, karena nggak mau diganggu tugas menyelesaikan urusan domestik apapun kalau Ajeng nanti bangun. Inginnya main aja seharian sama Ajeng. Sudah capek di kantor, capek lagi di rumah? Yang bener aja.

Setengah hari ninggalin Ajeng ke kantor, saya berharap di rumah bisa memberi semua waktu untuk dia saja. Bacakan buku, mandikan boneka, ajari naik sepeda, belajar bikin agar-agar, latih loncat tali, pijat-pijatan, dokter-dokteran, salon-salonan, masak-masakan, sekolah-sekolahan. Menikmati total waktu berdua yang hanya sekitar sembilan jam sehari itu.

Waktunya kerja ya di kantor. Di rumah harus bisa santai-santai menikmati pertemuan dengan Ajeng dan Budi. Bersih-bersih, cuci piring dan memasak, okelah. Tapi, cuci baju dan setrika? Bayar orang aja. Kalau nggak begitu, nggak habis-habis dong gaji saya tiap bulan.. *mempraktikkan majas hiperbola mode on :D

Tiga bulan menempati rumah baru, saya juga menyadari dua hal. Liputan, bikin appointment dengan narsumber, wawancara, menulis, ngedit, nranslate berita, benerin caption, bikin dummy halaman, cari foto, pilih headline, mengawasi halaman di-layout, memastikan halaman selesai di-print, ternyata hanya side job. Pekerjaan utama saya adalah sebagai ibu.

Dan bahwa apa yang paling dimaui Ajeng bukan apa yang saya belikan untuk dia; buku cerita bergambar berwarna, krayon lengkap, blender mainan, DVD Elmo, baju yang harganya lebih mahal dari baju saya sendiri, high heels mini, peralatan makan Barbie, apapun. Yang dia paling inginkan adalah apa yang dia sampaikan penuh harap pada saya lewat pertanyaan yang sama, hampir setiap bangun pagi. "(Hari) ini Ibu libur?"

3 comments:

Dian said...

setuju pit. memang kerja kantoran hanya side job. dan yg dihargai anakku yo podho mbek ajeng: ibu hari ini nggak ke kantor kan? *HIIIIIIKKKSSSSSS*

Adhi Widjajanto said...

itu lain cerita kalo anakmu dah mulai sekolah. pertanyaannya akan ganti: hari ini KITA libur ga? wakakakakakakaka...!!!

Manda La Mendol said...

APAAAAA !!! Selama 31 tahun, baru pertama masak bayem!! *lega, ternyata ada yang lebih parah dari aku.Nguakakakakaka...