Two Biggest Mistakes
(Peringatan: tulisan ini puanjang dan tidak ada sex story-nya. Yang tidak sedang bengong tidak disarankan membaca :P)
Saya tidak bermaksud begitu. Saya blas tidak punya tujuan menjerumuskannya dalam masalah. Tapi saya tetap merasa bersalah dan sangat nggak enak hati, waktu PR hotel bintang lima itu dapat warning letter gara-gara tulisan saya.
Berita yang saya tulis dibaca owner hotel, yang ternyata marah dan melabrak GM-nya. Dia translate berita itu ke dalam bahasa Inggris lalu dikirim ke Mr GM yang memang belum fasih bahasa Indonesia. Hasilnya, PR dipanggil sekalian dengan orang HRD, dan langsung dijatuhi sanksi SP oleh Mr GM. Itu SP pertama yang diterima Mbak PR selama bertahun-tahun kerja di sana, tapi langsung final karena dinilai sangat berat. Artinya, satu kesalahan lagi dibuat, dia bisa langsung dikeluarkan dari hotel paling mewah di kawasan Surabaya Selatan itu.
Bagi saya beritanya baik-baik saja. Bagi Mbak PR yang baik itu, juga. Dia hanya nggak aware kalau itu tidak perlu dipublikasi. Saya sudah menulis sesuai apa yang dia ucapkan. Saya bahkan sudah mengedit sendiri informasi-informasi yang dia sampaikan, sebab memang ada beberapa hal yang menurut saya tidak seharusnya diketahui publik. Saya yakin Mbak PR ngeh pernyataannya akan saya tulis, walau saat ngobrol saya tidak sambil mencatat dan hanya merekamnya dalam ingatan. Tidak ada komplain dari pihak hotel ke kantor saya, karena yang saya tulis memang benar adanya. Owner hanya nggak senang informasi itu sampai ke media dan terpublikasi.
Bagi saya dan Mbak PR berita itu tidak bermasalah. Tapi owner hotelnya punya sudut pandang berbeda. Saya minta maaf sedalam-dalamnya untuk kedua kali pada Mbak PR, Lebaran kemarin. Selain dia, ada satu lagi orang yang saya mintai maaf setulus-tulusnya karena kecipratan masalah gara-gara tulisan saya. Yang ini bahkan lebih menguras pikiran dan penyesalan saya.
Perempuan yang dulu naksir berat pada teman baik saja, Jimmy Adwang, keberatan dengan sebuah postingan saya di Facebook. Tapi dia tidak menumpahkan seluruh amarahnya secara langsung ke saya. Melainkan ke Jimmy. Saya akhirnya ganti caption di postingan foto itu. Tapi masih saja ada kalimat yang kurang berkenan di hati keluarga besarnya. Ya sudah, saya hapus saja. Jimmy tahu saya tidak ada maksud melukai siapapun saat mem-posting fotonya dengan perempuan itu. Maka dia membela saya mati-matian saat ditelepon hampir dua jam oleh kakak perempuan itu, serta meminta maaf sungguh-sungguh atas kesalahan yang saya buat. Saya berterima kasih banyak sekali atas pembelaannya.
Caption foto tersebut hanya untuk lucu-lucuan. Tapi saya akui, itu humor yang kasar dan sama sekali tidak cerdas, yang harusnya saya pikir berulang-ulang dulu sebelum menuliskannya. Tidak heran kalau yang merasa tersudutkan akhirnya mengamuk dengan kata-kata tidak kalah kasar meski dalam bahasa Inggris. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan saya kalau berada di posisi Jimmy; dimaki-maki karena kesalahan orang lain - seorang teman yang ceroboh.
Dia memang sempat melanjutkan amarah itu ke saya, yang saya terima dengan salah. Saya agak marah karena menganggap dia begitu dahsyatnya membela perempuan itu dan memarahi saya. Apalagi, ini bukan pertama kali saya merasa sebagai teman tidak dianggap oleh Jimmy.
November 2008 lalu, waktu dia tugas ke Surabaya, Jimmy telepon saya malam-malam. Katanya dia lagi di Surabaya Town Square (Sutos) bersama Miss B, teman SMA kami yang bersabahat dengan dia waktu Jimmy lanjutkan S2 di ITB. Lalu dia ajak saya bergabung bersama mereka di Sutos. Saya tolak mentah-mentah.
Jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya, kenapa tidak rencanakan ketemu saya juga sih, yang sudah lebih lama tidak ketemu? Kenapa baru kepikiran menelepon waktu sudah berkumpul di Sutos? Dalam khayalan saya, Jimmy sedang ngobrol seru dengan Miss B, lalu tiba-tiba dia ingat, eh masih ada satu lagi teman lain dia di Surabaya, yaitu saya. Barulah dia berniat menghubungi. Aduh, ampun. Minimal ajak kek saya rundingan soal tempat dan waktu pertemuan. Kok ya pas hari itu saya ulang tahun. Maka komplitlah sudah sensi saya.
Budi ketawa waktu saya mengomel soal ini. Dia tahu betul saya tidak pernah ada hati pada Jimmy. Dia hanya heran kenapa saya cemburu pada Miss B. Padahal bukan begitu ceritanya. Saya tidak cemburu sama Miss B yang sungguh baik hati itu. Saya hanya jadi merasa bertepuk sebelah tangan menikmati pertemanan dengan Jimmy. Saya sajakah yang selama ini merasa kami dekat, sedangkan dia tidak?
Saya ingat, waktu dia kuliah di Jogja, tiap ke Surabaya jalannya pasti sama saya. Sampai saya kenal tantenya karena dia sering izin menginap di kost saya. Hubungan saya baik dengan semua laki-laki penggemar ubi goreng di SMA, yang dengan naifnya membentuk klub bernama UBIC alias Ubi Club (haha!). Jimmy termasuk di antara 9 mereka. Tapi saya merasa lebih dekat dengan dia dibanding 8 lainnya. Saya kok sedih membayangkan, dia tidak begitu. Dia merasa biasa-biasa saja dan menganggap saya sama dengan yang lain.
Pada akhirnya saya berpikir, tidak penting apakah Jimmy anggap saya teman dekat atau bukan. Itu bukan pembenaran untuk mem-posting tulisan yang menjerumuskannya ke dalam masalah. Idul Fitri 1430 H ini, Jimmy satu-satunya teman yang saya telepon untuk minta maaf. Dia lagi mudik ke Kendari dan saya Lebaran di Surabaya seperti biasa. Tidak bisa bersalaman langsung untuk memohon maaf.
Saya katakan, saya khawatir kesalahan yang saya buat akan mempengaruhi pertemanan kami. Merubah kenyamanan yang saya rasakan sejak dulu. Saya juga mengerti jika bukan saya teman yang dia anggap paling dekat di antara geng perempuan saya yang jumlahnya juga 9 orang. Bagi saya, dia teman yang pantas dipertahankan.
Minal aidin walfaidzin, Jim. Atas kata-kata, prasangka, dan tulisan yang begitu salahnya selama ini. Maafkan saya lahir dan batin. Sungguh.
(Peringatan: tulisan ini puanjang dan tidak ada sex story-nya. Yang tidak sedang bengong tidak disarankan membaca :P)
Saya tidak bermaksud begitu. Saya blas tidak punya tujuan menjerumuskannya dalam masalah. Tapi saya tetap merasa bersalah dan sangat nggak enak hati, waktu PR hotel bintang lima itu dapat warning letter gara-gara tulisan saya.
Berita yang saya tulis dibaca owner hotel, yang ternyata marah dan melabrak GM-nya. Dia translate berita itu ke dalam bahasa Inggris lalu dikirim ke Mr GM yang memang belum fasih bahasa Indonesia. Hasilnya, PR dipanggil sekalian dengan orang HRD, dan langsung dijatuhi sanksi SP oleh Mr GM. Itu SP pertama yang diterima Mbak PR selama bertahun-tahun kerja di sana, tapi langsung final karena dinilai sangat berat. Artinya, satu kesalahan lagi dibuat, dia bisa langsung dikeluarkan dari hotel paling mewah di kawasan Surabaya Selatan itu.
Bagi saya beritanya baik-baik saja. Bagi Mbak PR yang baik itu, juga. Dia hanya nggak aware kalau itu tidak perlu dipublikasi. Saya sudah menulis sesuai apa yang dia ucapkan. Saya bahkan sudah mengedit sendiri informasi-informasi yang dia sampaikan, sebab memang ada beberapa hal yang menurut saya tidak seharusnya diketahui publik. Saya yakin Mbak PR ngeh pernyataannya akan saya tulis, walau saat ngobrol saya tidak sambil mencatat dan hanya merekamnya dalam ingatan. Tidak ada komplain dari pihak hotel ke kantor saya, karena yang saya tulis memang benar adanya. Owner hanya nggak senang informasi itu sampai ke media dan terpublikasi.
Bagi saya dan Mbak PR berita itu tidak bermasalah. Tapi owner hotelnya punya sudut pandang berbeda. Saya minta maaf sedalam-dalamnya untuk kedua kali pada Mbak PR, Lebaran kemarin. Selain dia, ada satu lagi orang yang saya mintai maaf setulus-tulusnya karena kecipratan masalah gara-gara tulisan saya. Yang ini bahkan lebih menguras pikiran dan penyesalan saya.
Perempuan yang dulu naksir berat pada teman baik saja, Jimmy Adwang, keberatan dengan sebuah postingan saya di Facebook. Tapi dia tidak menumpahkan seluruh amarahnya secara langsung ke saya. Melainkan ke Jimmy. Saya akhirnya ganti caption di postingan foto itu. Tapi masih saja ada kalimat yang kurang berkenan di hati keluarga besarnya. Ya sudah, saya hapus saja. Jimmy tahu saya tidak ada maksud melukai siapapun saat mem-posting fotonya dengan perempuan itu. Maka dia membela saya mati-matian saat ditelepon hampir dua jam oleh kakak perempuan itu, serta meminta maaf sungguh-sungguh atas kesalahan yang saya buat. Saya berterima kasih banyak sekali atas pembelaannya.
Caption foto tersebut hanya untuk lucu-lucuan. Tapi saya akui, itu humor yang kasar dan sama sekali tidak cerdas, yang harusnya saya pikir berulang-ulang dulu sebelum menuliskannya. Tidak heran kalau yang merasa tersudutkan akhirnya mengamuk dengan kata-kata tidak kalah kasar meski dalam bahasa Inggris. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan saya kalau berada di posisi Jimmy; dimaki-maki karena kesalahan orang lain - seorang teman yang ceroboh.
Dia memang sempat melanjutkan amarah itu ke saya, yang saya terima dengan salah. Saya agak marah karena menganggap dia begitu dahsyatnya membela perempuan itu dan memarahi saya. Apalagi, ini bukan pertama kali saya merasa sebagai teman tidak dianggap oleh Jimmy.
November 2008 lalu, waktu dia tugas ke Surabaya, Jimmy telepon saya malam-malam. Katanya dia lagi di Surabaya Town Square (Sutos) bersama Miss B, teman SMA kami yang bersabahat dengan dia waktu Jimmy lanjutkan S2 di ITB. Lalu dia ajak saya bergabung bersama mereka di Sutos. Saya tolak mentah-mentah.
Jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya, kenapa tidak rencanakan ketemu saya juga sih, yang sudah lebih lama tidak ketemu? Kenapa baru kepikiran menelepon waktu sudah berkumpul di Sutos? Dalam khayalan saya, Jimmy sedang ngobrol seru dengan Miss B, lalu tiba-tiba dia ingat, eh masih ada satu lagi teman lain dia di Surabaya, yaitu saya. Barulah dia berniat menghubungi. Aduh, ampun. Minimal ajak kek saya rundingan soal tempat dan waktu pertemuan. Kok ya pas hari itu saya ulang tahun. Maka komplitlah sudah sensi saya.
Budi ketawa waktu saya mengomel soal ini. Dia tahu betul saya tidak pernah ada hati pada Jimmy. Dia hanya heran kenapa saya cemburu pada Miss B. Padahal bukan begitu ceritanya. Saya tidak cemburu sama Miss B yang sungguh baik hati itu. Saya hanya jadi merasa bertepuk sebelah tangan menikmati pertemanan dengan Jimmy. Saya sajakah yang selama ini merasa kami dekat, sedangkan dia tidak?
Saya ingat, waktu dia kuliah di Jogja, tiap ke Surabaya jalannya pasti sama saya. Sampai saya kenal tantenya karena dia sering izin menginap di kost saya. Hubungan saya baik dengan semua laki-laki penggemar ubi goreng di SMA, yang dengan naifnya membentuk klub bernama UBIC alias Ubi Club (haha!). Jimmy termasuk di antara 9 mereka. Tapi saya merasa lebih dekat dengan dia dibanding 8 lainnya. Saya kok sedih membayangkan, dia tidak begitu. Dia merasa biasa-biasa saja dan menganggap saya sama dengan yang lain.
Pada akhirnya saya berpikir, tidak penting apakah Jimmy anggap saya teman dekat atau bukan. Itu bukan pembenaran untuk mem-posting tulisan yang menjerumuskannya ke dalam masalah. Idul Fitri 1430 H ini, Jimmy satu-satunya teman yang saya telepon untuk minta maaf. Dia lagi mudik ke Kendari dan saya Lebaran di Surabaya seperti biasa. Tidak bisa bersalaman langsung untuk memohon maaf.
Saya katakan, saya khawatir kesalahan yang saya buat akan mempengaruhi pertemanan kami. Merubah kenyamanan yang saya rasakan sejak dulu. Saya juga mengerti jika bukan saya teman yang dia anggap paling dekat di antara geng perempuan saya yang jumlahnya juga 9 orang. Bagi saya, dia teman yang pantas dipertahankan.
Minal aidin walfaidzin, Jim. Atas kata-kata, prasangka, dan tulisan yang begitu salahnya selama ini. Maafkan saya lahir dan batin. Sungguh.


1 comments:
Bener-bener panjang, tapi aku juga pas bengong jadi ga ada salahnya mbaca.
Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Postinganku di blog membuat salah seorang sahabat lama tersinggung. Ga ngomong langsung sih, cuman tiba-tiba diam 1000 bahasa & curhat ke teman saya yang lain. Akhirnya postingan itu saya drop, ganti dengan tulisan lain... :D plus permintaan maaf. Pertemanan adalah segalanya buat saya.
Post a Comment