Saya terbebani waktu harus mengisi rubrik Sudut Pandang di koran tempat saya kerja, tepat di hari Mbah Surip meninggal, 4 Agustus lalu. Dia sudah tua dan gaya hidupnya jelas tidak sehat. Tapi Mbah Surip meninggal, tetap bikin semua kaget.
Cepat sekali. Maksudnya, bukan cepat berpulang setelah dilahirkan 60 tahun lalu. Tapi meninggalnya cuma sekitar tiga bulan setelah si mbah sukses jadi penyanyi. Sukses bermetamorfosa dari seniman yang gelandangan menjadi selebriti yang nyeni.
Ini kabar duka yang dibicarakan orang se-Indonesia raya. Mbah Surip meninggal adalah tema paling pas untuk dibahas dalam Sudut Pandang hari itu. Padahal saya tidak merasakan duka sedalam yang dirasakan orang-orang di sekitar saya. Saya tidak merasakan kehilangan sebesar yang dirasakan orang-orang di sekitar Mbah Surip. Sangat tidak enak menulis tentang dia sejujur yang saya sebenarnya inginkan, pada hari saat semua berduka atas kepergian Mbah Surip. Serba salah jadinya.
Saya ketemu Mbah Surip sekitar dua minggu sebelum dia meninggal. Malamnya, saya bingung sendiri di depan komputer. Pusing menulis beritanya. Tidak ada ide mencari kalimat pembuka yang terasa segar. Itu karena saya ragu setengah mati dengan semua ucapan Mbah Surip. Kata teman-teman kantor, yang salah ya saya. Mbah Surip kok dipercaya? Ngapain diseriusin? Hahaha.
Waktu wawancara, banyak pernyataan Mbah Surip yang sampai saya konfirmasi berulang-ulang, saking ragunya dengan kebenaran ucapan dia. Terutama tentang royalti RBT lagu Tak Gendong, yang sebelumnya ia klaim mencapai antara Rp 3 miliar sampai Rp 4,5 miliar. Waktu saya tanya, berapa tepatnya jumlah yang akan dia terima dari RBT, Mbah Surip menjawab yakin, "81."
Saya melongo. "Maksudnya?"
"Ya 81 miliar."
"81 miliar atau 81 juta?"
"Miliar."
"81 maksudnya 8,1 miliar atau 81 miliar, mbah?"
"81 miliar."
"Miliar?"
"Iya."
"Miliar, ya?"
Mungkin saya yang keterlaluan hari itu. Nanya satu hal saja kok ya ngotot begitu. Mbah Surip akhirnya esmosi. "Kamu ini nanya atau ngajak debat?"
Hahaha. Saya spontan ketawa dan minta maaf, nggak sangka dia akan ngamuk. Tapi saya sungguh ragu tentang RBT senilai m-m-an itu. Doh. Ahmad Dhani aja dengan Manajemen Republik Cinta-nya yang sukses besar, nggak dapat uang sebanyak itu dari RBT. Rp 81 miliar? Serius?
Faktanya, yang didapat keluarga Mbah Surip jauh di bawah itu. Falcon Music, perusahaan rekaman yang menangani albumnya, menyatakan bahwa royalti yang diterima ahli waris Mbah Surip hanya Rp 112.386.041.
Tapi berapa pun jumlah royaltinya, itu tidak bisa dipakai sebagai paramter kesuksesan Mbah Surip. Banyak uang atau tanpa uang, Mbah Surip mengaku tidak ada bedanya. Dia tetap merasa hidupnya bahagia dan sukses menurut versinya. Mbah Surip baru akan merasakan perubahan dahsyat dalam hidup, kalau satu hari saja tidak ngopi. Kopinya pun tidak sembarangan. Harus kopi hitam kental pahit tanpa campuran. Itu menu favorit Mbah Surip sejak dulu, yang bahkan lebih banyak dia konsumsi daripada nasi dan air putih.
Parameter kesuksesan tiap orang itu beda-beda. Saya merasa sukses kalau menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sebelum Ajeng bangun pagi. Mbah Surip merasa sukses kalau bisa menyenangkan orang lain. Bukan karena uang banyak, apalagi popularitas selangit. Jadi, sudah dari dulu sebenarnya dia merasa sukses. Sebelum Tak Gendong-nya booming. Sebelum wajahnya muncul di infotainment. Sebelum rambut gimbalnya yang dirawat pakai sampo kucing itu, jadi tren.
Karena selalu ingin menyenangkan orang, Mbah Surip sampai tidak care dengan dirinya sendiri. Dia mengiyakan permintaan tampil di mana-mana, sementara badan tuanya butuh istirahat. Kelelahan luar biasa. Kasihan. Saya selalu prihatin dengan orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengurusi dan membahagiakan orang lain, sampai tidak sempat merawat diri sendiri.
Itulah kenapa saya tidak mengagumi Mbah Surip sepenuhnya. Saya hanya mengagumi separoh dirinya. Semangatnya. Sederhananya.
Ngapunten, Mbak Surip. But i don't love u full.
*Ini tulisan sangat nggak aktual yang di-posting iseng-iseng sambil menunggu halaman di-layout, lantaran FaceBook dan YM resmi diblokir total oleh kantor :p
Cepat sekali. Maksudnya, bukan cepat berpulang setelah dilahirkan 60 tahun lalu. Tapi meninggalnya cuma sekitar tiga bulan setelah si mbah sukses jadi penyanyi. Sukses bermetamorfosa dari seniman yang gelandangan menjadi selebriti yang nyeni.
Ini kabar duka yang dibicarakan orang se-Indonesia raya. Mbah Surip meninggal adalah tema paling pas untuk dibahas dalam Sudut Pandang hari itu. Padahal saya tidak merasakan duka sedalam yang dirasakan orang-orang di sekitar saya. Saya tidak merasakan kehilangan sebesar yang dirasakan orang-orang di sekitar Mbah Surip. Sangat tidak enak menulis tentang dia sejujur yang saya sebenarnya inginkan, pada hari saat semua berduka atas kepergian Mbah Surip. Serba salah jadinya.
Saya ketemu Mbah Surip sekitar dua minggu sebelum dia meninggal. Malamnya, saya bingung sendiri di depan komputer. Pusing menulis beritanya. Tidak ada ide mencari kalimat pembuka yang terasa segar. Itu karena saya ragu setengah mati dengan semua ucapan Mbah Surip. Kata teman-teman kantor, yang salah ya saya. Mbah Surip kok dipercaya? Ngapain diseriusin? Hahaha.
Waktu wawancara, banyak pernyataan Mbah Surip yang sampai saya konfirmasi berulang-ulang, saking ragunya dengan kebenaran ucapan dia. Terutama tentang royalti RBT lagu Tak Gendong, yang sebelumnya ia klaim mencapai antara Rp 3 miliar sampai Rp 4,5 miliar. Waktu saya tanya, berapa tepatnya jumlah yang akan dia terima dari RBT, Mbah Surip menjawab yakin, "81."
Saya melongo. "Maksudnya?"
"Ya 81 miliar."
"81 miliar atau 81 juta?"
"Miliar."
"81 maksudnya 8,1 miliar atau 81 miliar, mbah?"
"81 miliar."
"Miliar?"
"Iya."
"Miliar, ya?"
Mungkin saya yang keterlaluan hari itu. Nanya satu hal saja kok ya ngotot begitu. Mbah Surip akhirnya esmosi. "Kamu ini nanya atau ngajak debat?"
Hahaha. Saya spontan ketawa dan minta maaf, nggak sangka dia akan ngamuk. Tapi saya sungguh ragu tentang RBT senilai m-m-an itu. Doh. Ahmad Dhani aja dengan Manajemen Republik Cinta-nya yang sukses besar, nggak dapat uang sebanyak itu dari RBT. Rp 81 miliar? Serius?
Faktanya, yang didapat keluarga Mbah Surip jauh di bawah itu. Falcon Music, perusahaan rekaman yang menangani albumnya, menyatakan bahwa royalti yang diterima ahli waris Mbah Surip hanya Rp 112.386.041.
Tapi berapa pun jumlah royaltinya, itu tidak bisa dipakai sebagai paramter kesuksesan Mbah Surip. Banyak uang atau tanpa uang, Mbah Surip mengaku tidak ada bedanya. Dia tetap merasa hidupnya bahagia dan sukses menurut versinya. Mbah Surip baru akan merasakan perubahan dahsyat dalam hidup, kalau satu hari saja tidak ngopi. Kopinya pun tidak sembarangan. Harus kopi hitam kental pahit tanpa campuran. Itu menu favorit Mbah Surip sejak dulu, yang bahkan lebih banyak dia konsumsi daripada nasi dan air putih.
Parameter kesuksesan tiap orang itu beda-beda. Saya merasa sukses kalau menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sebelum Ajeng bangun pagi. Mbah Surip merasa sukses kalau bisa menyenangkan orang lain. Bukan karena uang banyak, apalagi popularitas selangit. Jadi, sudah dari dulu sebenarnya dia merasa sukses. Sebelum Tak Gendong-nya booming. Sebelum wajahnya muncul di infotainment. Sebelum rambut gimbalnya yang dirawat pakai sampo kucing itu, jadi tren.
Karena selalu ingin menyenangkan orang, Mbah Surip sampai tidak care dengan dirinya sendiri. Dia mengiyakan permintaan tampil di mana-mana, sementara badan tuanya butuh istirahat. Kelelahan luar biasa. Kasihan. Saya selalu prihatin dengan orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengurusi dan membahagiakan orang lain, sampai tidak sempat merawat diri sendiri.
Itulah kenapa saya tidak mengagumi Mbah Surip sepenuhnya. Saya hanya mengagumi separoh dirinya. Semangatnya. Sederhananya.
Ngapunten, Mbak Surip. But i don't love u full.
*Ini tulisan sangat nggak aktual yang di-posting iseng-iseng sambil menunggu halaman di-layout, lantaran FaceBook dan YM resmi diblokir total oleh kantor :p


1 comments:
Walaupun "tulisan sangat nggak aktual yang di-posting iseng-iseng sambil menunggu halaman di-layout" tetep saja saya suka, terutama waktu kamu minta penjelasan tentang 81, dialog yang ajaib..
Keep writing, I still watching u from the distance..
Love U Full, Ha..Ha..Ha..
Post a Comment