Thursday, July 23, 2009

Main Cantik Itu Penting

Saya jarang buka halaman olahraga. Tapi, baru-baru ini, ada judul di halaman olahraga yang sangat mengganggu pikiran saya, sampai saya komplain ke redakturnya. Judulnya begini: Tidak Penting Main Cantik, Pokoknya Menang. Isinya tentang preview pertandingan MU-Barcellona.

Mas Rak
, redaktur olahraga yang ganteng tapi tidak suka nonton BF karena 'Aku kasihan sama perempuannya, Pit', ketawa keras-keras waktu mendengar protes saya. Tidak ada yang salah dalam isi berita itu. Dan saya memang tidak meributkan tentang itu. Saya hanya tidak setuju dengan judul Tidak Penting Main Cantik, Pokoknya Menang, yang di otak saya terbaca Tidak Penting Main Cantik, Pokoknya Orgasme. Itu salah. Salah besar.

Kalau asal orgasme saja, silakan self service. Mending tidak usah main sekalian, kata saya. Main cantik tidak penting? Itu kan kata orang yang sudah merasa hebat hanya karena bisa doggy style.

Tapi, beberapa laki-laki yang saya kenal memang cenderung begitu. Main cantik penting. Tapi bukan yang terpenting. Yang paling penting, main. Perempuan memikirkan tentang gaya baru, menyiapkan lingerie ternakal, membayangkan mati lampu atau terang benderang, menginginkan peningkatan kualitas tiap kali permainan. Laki-laki hanya membayangkan satu hal: seandainya itu terjadi sesering maunya.

Tidak harus gaya baru. "Yang seperti kemarin juga nggak papa deh, asal main lagi sekarang." Tidak perlu lingerie seksi. "Pokoknya jangan pakai boxer." Mati lampu? "Oke." Terang benderang? "Oke. Tapi, sekarang ya?" Lebih bagus, lebih baik. "Tapi lebih sering, lebih baik lagi." Tidak harus berkualitas. Pokoknya intensitas.

Tidak ada standar baku tentang frekuensi ideal berhubungan seks, yang menunjukkan tingkat keharmonisan pasangan. Masing-masing pasti punya kenyamanan berbeda-beda tentang ini. Tiga kali seminggu mungkin kebanyakan untuk saya. Tapi dirasa kurang oleh pasangan lain. Dan kita tidak bisa menilai si A kasihan, karena tahu dia hanya bercinta sekitar 10 hari sekali dengan suami, misalnya.

Ada redaktur di kantor saya yang istrinya tinggal di Lumajang. Seminggu sekali, tiap Jumat malam, dia pasti muncul dengan dandanan berbeda. Lebih dandy. Itu karena dia akan langsung pulang kampung setelah deadline. Dan orang sekantor tidak pernah berhenti mengomentari persiapan pulangnya ketemu istri. Semua kalimat mengarah pada hubungan seks yang diyakini bakal terjadi di Lumajang nanti. Saya sampai bosan dengarnya.

Suatu hari, di tengah rapat redaksi, saya bela dia setulus hati. "Mending Mr Hola (bukan nama sebenarnya). Ketemu seminggu sekali, tapi jelas. Daripada kalian; ketemu istri tiap hari, kumpulnya paling juga cuma seminggu sekali!"

Main cantik itu penting. Otomatis menangnya juga akan cantik. Terasa sampai ke seluruh badan. Menjalar sampai ke ujung kaki.
Dan bercinta seminggu sekali itu sangat cantik. Seru. Bikin penasaran. Ditunggu-tunggu. Itu masuk kategori Edisi Khusus dalam kehidupan seks saya. Karena belum tentu bisa terjadi setiap bulan. Belum tentu selama itu kuat menahan.

5 comments:

rakmantap said...

mantap Pit!...gak penting main cantik sudah dihabisi. Sekarang ada yang baru lagi di kalangan lelaki. Tidur dan Mati hubungannya sangat erat.

Tidur sama artis, bangganya setengah mati. Tidur sama pacar, deg-degan setengah mati. Tidur sama istri orang, takutnya setengah mati. Tidur sama istri, pura-pura mati.....

rakmantap said...

mantap Pit!...gak penting main cantik sudah dihabisi. Sekarang ada yang baru lagi di kalangan lelaki. Tidur dan Mati hubungannya sangat erat.

Tidur sama artis, bangganya setengah mati. Tidur sama pacar, deg-degan setengah mati. Tidur sama istri orang, takutnya setengah mati. Tidur sama istri, pura-pura mati....., ini semua gara-gara kalau main seminggu sekali.

Pipit said...

:D
gak dong mas. itu semua gara-gara "Main Cantik Tidak Penting, Pokoknya Menang" *ngeyel.com hahahaaa

dipta said...

Setuju. Cantik itu penting. Apalagi berhubungan dengan seks. Saya tak dapat membayangkan bermain seks dengan wanita yang tidak cantik, apalagi tak memiliki kualitas permainan yang cantik. Mending tidur dan membiarkan waktu berlalu dimakan usang.

Adhi Widjajanto said...

Wah... yg penting main cantik, menang urusan belakang. Soalnya kalau dia tidak menang, saya juga tidak bisa menang... :D