Hari Baik-3
Weekend lalu Budi tugas ke luar kota. Jumat-nya, dia sudah bilang kalau besok subuh akan dijemput sopir kantor. Dan saya sudah menanyakan berulang kali kota tujuan dan nama teman sekantornya yang ikut. Itu karena ponsel Budi lagi rusak, jadi kalau ada apa-apa nanti, saya harus menghubungi dia lewat ponsel temannya.
Masalahnya, memoriku ini kacau balau. Kadang saya sudah berusaha mati-matian mengingat nama orang maupun hal-hal penting lain, yang akhirnya dengan gampang terhapus tanpa jejak. Sebaliknya, banyak hal-hal nggak penting yang melekat kuat di ingatan tanpa saya program.
Besoknya -pas bangun pagi dan Budi sudah berangkat-, seperti yang sudah saya sendiri khawatirkan, saya kebingungan cari catatan nama dan nomor telepon teman Budi. Begitu takutnya catatan itu hilang, saya simpan di tempat yang sangat aman dan dijamin tidak akan hilang. Tapi saking amannya, saya sendiri sampai lupa ya ampun Tuhan di mana catatan itu saya simpan.
Lalu saya lihat kertas kecil di bawah TV, di dekat STNK yang ditinggalkan Budi. Itu bukan kertasku dan tulisan di atasnya bukan tulisanku. Tapi isinya persis seperti yang saya cari sejak tadi; nama dan nomor telepon teman Budi, yang bisa saya hubungi kalau sewaktu-waktu ada hal penting terjadi. Saya tidak meminta Budi membuatkan catatan itu. Dia juga sudah menjawab dengan jelas, tiap kali saya menanyakan nama dan nomor ponsel temannya yang ikut, berulang-ulang. Tapi Budi tahu betul pada akhirnya saya akan tetap lupa. Aduh, ayah... tahu saya banget sih :)
Tentu saja saya langsung telepon nomor temannya. Ada hal penting yang terjadi dan harus saya sampaikan. Saya jadi sangat bergairah atas perhatiannya. He turns me on! Kejutan itu menjadi awal yang sempurna untuk memulai hari baik saya. "Cepat pulang, Ayah. Ada hadiah besar nanti malam," janji saya, setengah maksa setengah mupeng.
Weekend lalu Budi tugas ke luar kota. Jumat-nya, dia sudah bilang kalau besok subuh akan dijemput sopir kantor. Dan saya sudah menanyakan berulang kali kota tujuan dan nama teman sekantornya yang ikut. Itu karena ponsel Budi lagi rusak, jadi kalau ada apa-apa nanti, saya harus menghubungi dia lewat ponsel temannya.
Masalahnya, memoriku ini kacau balau. Kadang saya sudah berusaha mati-matian mengingat nama orang maupun hal-hal penting lain, yang akhirnya dengan gampang terhapus tanpa jejak. Sebaliknya, banyak hal-hal nggak penting yang melekat kuat di ingatan tanpa saya program.
Besoknya -pas bangun pagi dan Budi sudah berangkat-, seperti yang sudah saya sendiri khawatirkan, saya kebingungan cari catatan nama dan nomor telepon teman Budi. Begitu takutnya catatan itu hilang, saya simpan di tempat yang sangat aman dan dijamin tidak akan hilang. Tapi saking amannya, saya sendiri sampai lupa ya ampun Tuhan di mana catatan itu saya simpan.
Lalu saya lihat kertas kecil di bawah TV, di dekat STNK yang ditinggalkan Budi. Itu bukan kertasku dan tulisan di atasnya bukan tulisanku. Tapi isinya persis seperti yang saya cari sejak tadi; nama dan nomor telepon teman Budi, yang bisa saya hubungi kalau sewaktu-waktu ada hal penting terjadi. Saya tidak meminta Budi membuatkan catatan itu. Dia juga sudah menjawab dengan jelas, tiap kali saya menanyakan nama dan nomor ponsel temannya yang ikut, berulang-ulang. Tapi Budi tahu betul pada akhirnya saya akan tetap lupa. Aduh, ayah... tahu saya banget sih :)
Tentu saja saya langsung telepon nomor temannya. Ada hal penting yang terjadi dan harus saya sampaikan. Saya jadi sangat bergairah atas perhatiannya. He turns me on! Kejutan itu menjadi awal yang sempurna untuk memulai hari baik saya. "Cepat pulang, Ayah. Ada hadiah besar nanti malam," janji saya, setengah maksa setengah mupeng.


0 comments:
Post a Comment