Yang suka nonton dangdut di TPI pasti tahu Tuan Takur. Selalu bertopeng, berjubah dan berkacamata hitam, laki-laki ini konon superkaya, lalu bosan kerja dan bingung harus menggunakan uangnya yang banyak itu untuk apa. Menjadi decision maker Dangdut Mania dan Dangdut Mania Dadakan, Tuan Takur hamburkan uang buat rakyat kecil yang bisa nyanyi dan berani tampil.
Galaknya ampun. Semua pedangdut yang setahun terakhir merintis karir lewat TPI, pasti pernah kena marah dia.
Saya pribadi sebenarnya tidak penasaran dengan sosok sok misterius ini. Tapi karena pekerjaan, saya akhirnya harus menulis berita tentang Tuan Takur. Saya wawancara dia dalam perjalanan dari Bandara Juanda ke hotel, November 2008. Di mobil itu hanya ada tujuh orang; saya, Tuan Takur, sopir, Hadi Abdullah (promo event selection head-nya TPI, yang saya lobi agar bisa wawancarai Tuan Takur secara khusus), dan tiga bodyguard. Walau nggak ada siapa-siapa lagi di dalam situ, Tuan Takur nggak mau buka kostum, apalagi topengnya. Dia juga tidak mengizinkan saya mengintip wajah aslinya.
Tuan Takur bukan orang ramah, saya apalagi. Ngobrol dengan jarak sangat dekat karena dia duduk pas di sebelah saya, wawancara sekitar 45 menit itu, bahkan lebih mirip pertengkaran daripada wawancara. Dia tidak mau ditanya soal pribadi. Tapi itu justru hal utama yang ingin saya tulis tentang dia. Penumpang lain di mobil itu terbahak-bahak sepanjang jalan dengar obrolan kami.
Besoknya, saya satu mobil lagi sama dia dalam perjalanan ke Mojokerto. Saya memang numpang mobil TPI untuk meliput acara mereka nun jauh di sana. Setelah itu, saya kira saya tidak akan ketemu Tuan Takur lagi.
Awal Maret kemarin, TPI gelar audisi KDI-6 di Surabaya. Saya lagi ngobrol sama humas TPI dan wartawan Koran Sindo yang baru datang. Lalu ada laki-laki masuk dan ikut gabung dengan kami. Wartawan Koran Sindo cerita tentang audisi Dream Girls-nya Global TV yang dia liput satu jam lalu. Acara ini khusus untuk perempuan sudah menikah. "Khusus untuk yang sudah tidak perawan," celetuk saya. Laki-laki yang barusan gabung tadi tertawa sambil mendorong bahu saya kuat-kuat. Saya merasa aneh waktu itu. Saya yakin saya tidak kenal dia. Saya bahkan belum pernah ketemu dia. Tapi kenapa dia seperti merasa akrab dengan saya?
Lewat postur, bahasa tubuh dan suaranya, saya kemudian yakin dia laki-laki bertopeng yang bernama Tuan Takur itu. Sebelum jumpa pers dimulai, saya datangi lalu salami dia, "Nggak usah dibantah dan saya nggak akan ngomong apa-apa lagi. Tapi saya ingat pernah wawancara kamu di mobil. Saya tahu kamu," kata saya sok preman. Saya nggak menyebut nama Tuan Takur sama sekali. Justru dia yang kemudian menjawab begini, "Eh, bukan. Saya ini manajernya Tuan Takur." Huh.
Karena dia bantah terus, saya berencana akan tulis lagi soal dia. Dugaan kuat bahwa pemeran Tuan Takur itu, ya ini. Tentu saja saya tahu nama dan pekerjaan aslinya. Bantahan dia juga pasti saya muat. Saya sudah pesan ke fotografer untuk fotoin laki-laki berkulit putih dan berjanggut itu. Posenya usahain mirip salah satu pose Tuan Takur waktu dipotret fotografer andalan koranku ini, November lalu. Saya sudah bayangin itu akan menjadi foto utama di halamanku. Foto Tuan Takur bertopeng akan saya sandingkan dengan foto dia tanpa topeng, dengan pose yang mirip.
Tapi dia akhirnya mengaku. Walau tidak dengan kalimat langsung, bahwa dia Tuan Takur. Sorenya, dia juga ikut kunjungan ke kantorku. Ya sudah, saya batalkan saja rencana membongkar rahasianya lewat tulisan.
Senin lalu, hari pertama kampanye Pemilu 2009, Tuan Takur telepon saya, langsung dari ponselnya. Mengabarkan dia baru mendarat lagi di Surabaya untuk sebuah urusan. Dia menawarkan akan memfasilitasi saya, kalau mau wawancara beberapa selebriti yang datang bersama dia.
Saya ketawa. Tuan Takur bisa baik juga ternyata.


4 comments:
baik.... atau takut diperes sama kamu Pit? Wkwkwkwkwkwk...!!!
wah....hebat, km punya keyakinan kuat. Itu modal. mungkin tuan Takur diam-diam juga mengakui itu pit.
wah....hebat, km punya keyakinan kuat. Itu modal. mungkin tuan Takur diam-diam juga mengakui itu pit.
hi Pit pa kabar? aku selalu tersenyum tiap kali mampir dan baca blog ini, apalagi kalau bukan karena kelincahan si pemilik blog menuliskan kisahnya, termasuk soal Tuan Takur itu (walaupun aku ga tahu siapa dia karena jarang banget nonton TV....).
jadi penasaran pengen ketemu kayak apa Pipit ini orangnya, kalo aku ke Surabaya kita kopi darat ya....
Post a Comment