Hari Baik
Banyak hari baik dalam hidup saya. Waktu Ajeng tidak menangis mandi pagi mau sekolah. Waktu halamanku banyak iklan dan hanya perlu diisi dua berita. Waktu nemu buku Tini di Pasar Malam seharga Rp 4 ribu di penjual buku bekas di Jl Semarang (Gramedia sudah lama nggak cetak ulang buku ini). Waktu terima SMS menyampaikan kangen dari orang yang memang sedang saya pikirkan. Waktu bonusnya Budi cair. Waktu ngecek ATM dan bonus sudah masuk.
Weekend lalu, ada satu hari baik lagi. Hari yang tepat untuk masuki rumah baru, kata mertua. Itu 21 Februari. Saya sebenarnya tidak percaya beginian. Apalagi, saya tahu mertua tidak tahu alamat lengkap rumah kami. Jadi, bagaimana ya sampai orang pintar bisa menetapkan hari baik itu? "Dari weton-nya Budi dan arah rumah hadap mana," jawab ibu (mertua) yakin.
Saya diam saja.
21 Februari sebenarnya hari yang rutin saya alarmi di ponsel. Itu hari pernikahan kami, lima tahun lalu. Tahun ini, 21 Februari persis satu hari sebelum masa 100 hari pemeliharaan (komplain) pembangunan rumah, selesai. Jadi, ya bagus-bagus saja kalau dibarengi dengan selamatan rumah baru.
Tapi ternyata upacara masuk rumah itu bukan buka pintu lalu masuk, begitu saja. Harus ada tumpengan dan bawaan berupa tikar, sapu, bantal. Belum lagi bubur, kue dan berkatan untuk para tamu. Saya total-total, biayanya bisa menggerogoti dana persiapan beli pompa air. Tidak, tidak. Tidak usah 21 Februari. Saya mau hari baik yang lain saja. Hari waktu ada dana esktra untuk acara itu.
Tapi pendapat mertua lain. Tidak ada hari bagus lain. Itu hari terbaik untuk masuki rumah kami. Bukan 21 bulan depan atau bulan depan-bulan depannya lagi. Maka dengan semangat sukarela tulus ikhlas, mertua siap biayai seluruh acara. Oh, no. It doesn't have to be this way.
Antara supersetuju dan sedikit malu, kami coba negosiasi. Oke, 21 Februari hari baik. Tapi biar kami tanggung biayanya. Beli pompa air bisa ditunda bulan depan. Ternyata mertua menolak. Mungkin sudah terlanjur berniat baik ingin membiayai. Yo wis, separohnya. Ditolak juga. Apa boleh buat, kami mengalah dengan senang hati :) Ternyata 21 Februari juga hari baik. Hari waktu saya justru gembira setelah kalah dalam perundingan.
Weekend lalu, ada satu hari baik lagi. Hari yang tepat untuk masuki rumah baru, kata mertua. Itu 21 Februari. Saya sebenarnya tidak percaya beginian. Apalagi, saya tahu mertua tidak tahu alamat lengkap rumah kami. Jadi, bagaimana ya sampai orang pintar bisa menetapkan hari baik itu? "Dari weton-nya Budi dan arah rumah hadap mana," jawab ibu (mertua) yakin.
Saya diam saja.
21 Februari sebenarnya hari yang rutin saya alarmi di ponsel. Itu hari pernikahan kami, lima tahun lalu. Tahun ini, 21 Februari persis satu hari sebelum masa 100 hari pemeliharaan (komplain) pembangunan rumah, selesai. Jadi, ya bagus-bagus saja kalau dibarengi dengan selamatan rumah baru.
Tapi ternyata upacara masuk rumah itu bukan buka pintu lalu masuk, begitu saja. Harus ada tumpengan dan bawaan berupa tikar, sapu, bantal. Belum lagi bubur, kue dan berkatan untuk para tamu. Saya total-total, biayanya bisa menggerogoti dana persiapan beli pompa air. Tidak, tidak. Tidak usah 21 Februari. Saya mau hari baik yang lain saja. Hari waktu ada dana esktra untuk acara itu.
Tapi pendapat mertua lain. Tidak ada hari bagus lain. Itu hari terbaik untuk masuki rumah kami. Bukan 21 bulan depan atau bulan depan-bulan depannya lagi. Maka dengan semangat sukarela tulus ikhlas, mertua siap biayai seluruh acara. Oh, no. It doesn't have to be this way.
Antara supersetuju dan sedikit malu, kami coba negosiasi. Oke, 21 Februari hari baik. Tapi biar kami tanggung biayanya. Beli pompa air bisa ditunda bulan depan. Ternyata mertua menolak. Mungkin sudah terlanjur berniat baik ingin membiayai. Yo wis, separohnya. Ditolak juga. Apa boleh buat, kami mengalah dengan senang hati :) Ternyata 21 Februari juga hari baik. Hari waktu saya justru gembira setelah kalah dalam perundingan.


2 comments:
Moga rumahnya tidak menjadi gudang, tetep jadi rumah yang selalu terisi dengan apa-apa yang kalian sukai saja.. :) peace yo..
manut aeee pit, enak, barokah, bisa ngirit. hehheeh...
Post a Comment