
Sehat. Rumah impian. Liburan ke Bali. Ajeng masuk sekolah. Nginap tanpa biaya di hotel bintang lima dengan fasilitas ekstra. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang bisa saya dustakan?
Saya sedih sekali tidak bisa berkurban tahun ini. Meski hanya satu ekor kambing. Banyak hal-hal baik yang saya harapkan, terjadi. Dan saya tidak percaya bahwa itu hanya sebuah kebetulan. Tidak mungkin semuanya terkabul tanpa campur tangan Tuhan. Dimulai dari beli rumah yang sesuai keinginan, lalu sukses penghematan besar-besaran yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.
Di tengah hidup pas-pasan selama enam bulan itu, masih ada rezeki untuk bisa jalan-jalan ke Bali, pengganti rencana liburan ke Jogja yang batal karena dananya untuk bayar uang muka rumah. Biaya ke Bali bertiga selama tiga malam ini supermurah. Bahkan lebih murah dibanding rencana asli ke Jogja. Padahal fasilitasnya memuaskan. Bagaimana mungkin itu tanpa bantuan Tuhan?
Dan banyak lagi yang lain. Yang sering bikin saya malu. Malu karena hanya dengan ibadah saya yang begini-begini saja, Tuhan masih memberi perhatian besar pada keluarga saya. Mencukupkan rezeki (selalu ada uang ekstra dadakan kalau ada kebutuhan ekstra dadakan), menjaga hati, melindungi keselamatan (walau kadang ngebut pas hujan) dan kesehatan (meski kadang Ajeng masih lolos dari pengawasan makan kudapan nggak sehat). Bayangkan. Miliaran orang di bumi ini, dan Dia masih begitu peduli pada saya yang banyak salah ini? Luar biasa.
Saya sebenarnya punya satu impian kecil tentang rumah. Ingin berkurban di sana. Karena selama di Surabaya, saya hanya bisa kurban numpang di rumah saudara, atau bahkan menitipkan hewan kurban di masjid. Saya nggak bisa jelaskan di sini alasan kenapa hewan-hewan kurban itu nggak disembelih di rumah mertua.
Sejak kecil bapak selalu panggil tukang jagal ke rumah. Tidak pernah nitipin kurban ke masjid. Jagal itu yang nyembelih, nguliti, dan potongin tulang-tulang hewan kurban. Nanti kita yang rame-rame irisi, nimbangi, dan mengemas dalam paket untuk diantar ke rumah tetangga dan fakir miskin.
Berkurban memang sunah hukumnya. Bagi saya itu artinya keikhlasan. Ikhlas ngeluarin uang untuk beli hewan kurban. Ikhlas repot mengurus penyembelihan di rumah dan mendistribusikan sendiri. Saya ingin bisa melaksanakannya tahun ini di rumah baru. Tapi gagal. Satu pelajaran penting tambahan bagi saya tentang financial. Dulunya, tanpa harus menyisihkan gaji dan mengerem keinginan macam-macam yang sebenarnya tidak penting sekali, berkurban tetap bisa. Sekarang, saya harus merencanakannya baik-baik dan menabung khusus untuk itu.
Saya selalu yakin Tuhan Maha Tahu. Bahkan tentang sesuatu yang tidak saya ucapkan. Yang hanya bisa saya rasakan. Yang hanya berani saya simpan dalam-dalam di hati. Jadi, saya percaya Tuhan pasti tahu penyesalan saya tidak bisa ikut berkurban. Saya percaya Tuhan tahu, saya sangat mensyukuri setiap tetes nikmat yang diberikan, dan tidak berkurban tahun ini bukan berarti saya mengingkari betapa Maha Pengasih dan Maha Kaya Dia. Matur nuwun, Tuhan. Sungguh.
Saya sedih sekali tidak bisa berkurban tahun ini. Meski hanya satu ekor kambing. Banyak hal-hal baik yang saya harapkan, terjadi. Dan saya tidak percaya bahwa itu hanya sebuah kebetulan. Tidak mungkin semuanya terkabul tanpa campur tangan Tuhan. Dimulai dari beli rumah yang sesuai keinginan, lalu sukses penghematan besar-besaran yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.
Di tengah hidup pas-pasan selama enam bulan itu, masih ada rezeki untuk bisa jalan-jalan ke Bali, pengganti rencana liburan ke Jogja yang batal karena dananya untuk bayar uang muka rumah. Biaya ke Bali bertiga selama tiga malam ini supermurah. Bahkan lebih murah dibanding rencana asli ke Jogja. Padahal fasilitasnya memuaskan. Bagaimana mungkin itu tanpa bantuan Tuhan?
Dan banyak lagi yang lain. Yang sering bikin saya malu. Malu karena hanya dengan ibadah saya yang begini-begini saja, Tuhan masih memberi perhatian besar pada keluarga saya. Mencukupkan rezeki (selalu ada uang ekstra dadakan kalau ada kebutuhan ekstra dadakan), menjaga hati, melindungi keselamatan (walau kadang ngebut pas hujan) dan kesehatan (meski kadang Ajeng masih lolos dari pengawasan makan kudapan nggak sehat). Bayangkan. Miliaran orang di bumi ini, dan Dia masih begitu peduli pada saya yang banyak salah ini? Luar biasa.
Saya sebenarnya punya satu impian kecil tentang rumah. Ingin berkurban di sana. Karena selama di Surabaya, saya hanya bisa kurban numpang di rumah saudara, atau bahkan menitipkan hewan kurban di masjid. Saya nggak bisa jelaskan di sini alasan kenapa hewan-hewan kurban itu nggak disembelih di rumah mertua.
Sejak kecil bapak selalu panggil tukang jagal ke rumah. Tidak pernah nitipin kurban ke masjid. Jagal itu yang nyembelih, nguliti, dan potongin tulang-tulang hewan kurban. Nanti kita yang rame-rame irisi, nimbangi, dan mengemas dalam paket untuk diantar ke rumah tetangga dan fakir miskin.
Berkurban memang sunah hukumnya. Bagi saya itu artinya keikhlasan. Ikhlas ngeluarin uang untuk beli hewan kurban. Ikhlas repot mengurus penyembelihan di rumah dan mendistribusikan sendiri. Saya ingin bisa melaksanakannya tahun ini di rumah baru. Tapi gagal. Satu pelajaran penting tambahan bagi saya tentang financial. Dulunya, tanpa harus menyisihkan gaji dan mengerem keinginan macam-macam yang sebenarnya tidak penting sekali, berkurban tetap bisa. Sekarang, saya harus merencanakannya baik-baik dan menabung khusus untuk itu.
Saya selalu yakin Tuhan Maha Tahu. Bahkan tentang sesuatu yang tidak saya ucapkan. Yang hanya bisa saya rasakan. Yang hanya berani saya simpan dalam-dalam di hati. Jadi, saya percaya Tuhan pasti tahu penyesalan saya tidak bisa ikut berkurban. Saya percaya Tuhan tahu, saya sangat mensyukuri setiap tetes nikmat yang diberikan, dan tidak berkurban tahun ini bukan berarti saya mengingkari betapa Maha Pengasih dan Maha Kaya Dia. Matur nuwun, Tuhan. Sungguh.


5 comments:
subhan'allah ...
terima kasih ya buk sudah diingatkan ...
koq aku seperti disentil baca tulisanmu, sepertinya aku terlalu banyak mengeluh, dan lupa bersyukur ...
aduh isin aku. Padahal kalau dipikir-pikir, semua sudah tercukupi dan diberi limpahan rejeki. Tapi kok kerasa kuraaaangggg terus.
Wah, dapat rejeki nomplok ya sampai liburan ke bali..Ihiiiiiii
"Ikhlas repot mengurus penyembelihan di rumah dan mendistribusikan sendiri"....jujur saya belum terpikir sampai ke situ....
Thanks for sharing mbak..
Surabaya - Bali lebih murah daripada Surabaya - Jogja ya? Ugh... enak'e... Btw, Ajeng dah gede banget!
walah, lama ga mampir ke sini ternyata Ajeng dan gede en tuantik buanget ya.... (pasti kayak mommy-nya).
Iya, kadang-2 kita cuma berhitung yang susah-susah aja, tapi ga ingat yang harus disyukuri. thanks ya dah ngingetin.
BTW, aku tuh suka ada tugas ke Surabaya sekarang, Pipit di Surabaya belahan mana?
Post a Comment