Saya curiga ada yang tidak beres.
Karena bukan begitu tadi ekspresinya. Produser televisi swasta itu segar bugar dan penuh semangat waktu masuk ke studio. Lima belas menit setelah saya wawancara, kenapa dia -laki-laki trendi yang saya ragukan keperjakaannya- jadi kelihatan tertekan dan menderita?
"Mas marah sama saya?" tanya saya, jangan-jangan sudah salah ngomong.
Dia menggeleng cepat.
"Apa mas bingung?" saya tidak percaya.
Dia diam dulu. Mungkin sedang menyusun kalimat di kepalanya untuk menjawab, karena tidak enak hati kalau saya tersinggung dengar jawaban jujurnya nanti. Tapi dia tetap bilang tidak. Padahal saya lebih senang kalau dia jujur saja, daripada saya yang penasaran ingin tau kenapa wajahnya berubah.
"Mbak orang mana sih?"
Akhirnya dia bersuara, sambil menatap saya dengan ekspresi penuh tanya dosa-apa-saya-sampai-dihukum-Tuhan-pagi-pagi-sudah-harus-berurusan-sama-wartawan-seperti-ini. Sumpah. Semua orang yang saya temui di perusahaan itu dalam satu hari kemarin, tanya begitu semua. Dan tidak ada yang percaya kalau saya jawab saya orang Cina.
"Kenapa memangnya?" saya balik tanya.
"Mbak kok buru-buru sekali dan ngomong kayak marahi aku," keluh dia.
Lha! Padahal saya sama sekali tidak lagi marah atau buru-buru. Pasti karena bicara saya cepat dan saya ngomong terus dari tadi. Atau jangan-jangan intonasi suara saya terlalu ceria dan bersemangat (baca: meledak dan membentak). Belum sempat bantah, dia sudah melanjutkan daftar komplainnya. "Saya kan bingung. Ini ada apa, mbak kok tiba-tiba tanyain soal program-program kita," rajuk dia.
Iya, benar, merajuk. Bukan mengucapkan dengan nada tegas menuntut jawaban. Tapi lebih seperti suara keluhan yang manja. Dan sekarang saya meragukan kelaki-lakiannya.
Saya kira atasan dia sudah beritahu saya akan ke sana pagi-pagi untuk ngobrolin program unggulan mereka. Sepertinya ada sedikit miss. "Tadi ditanya katanya nggak bingung, sekarang bilang bingung. Trus Mas kok nggak nanya dari tadi? Saya kira mas sudah ngerti. Masa mas nggak tau saya?" :D Saya ucapkan semua itu tidak lebih dari 10 detik. Tapi kalimat terakhir penuh percaya diri itu yang sungguh bikin dia bengong. Dia -produser tiga program live unggulan- memandang saya dengan tatapan ngidam-apa-dulu-ibunya-waktu-hamil-?
Kesan pertama narasumber pada saya macam-macam. Tapi selalu punya satu kesamaan: pasti tanya di mana letak habitat asli saya. Dan kadang saya merasa suatu saat bisa digampar sama narasumber. Untung saja yang selama ini saya temui, selalu orang-orang yang memang sangat berharap kegiatan, prestasi, atau kesibukan mereka maupun perusahaan diberitakan. Jadi mereka cenderung menjaga sikap dan memperlakukan saya baik-baik. Bayangin, ya. Wawancara soal program TV unggulan untuk saya muat sinopsisnya saja, hampir perang. Bagaimana nasib saya kalau harus investigasi kriminal? Sudah jadi tumpang mungkin.
Karena bukan begitu tadi ekspresinya. Produser televisi swasta itu segar bugar dan penuh semangat waktu masuk ke studio. Lima belas menit setelah saya wawancara, kenapa dia -laki-laki trendi yang saya ragukan keperjakaannya- jadi kelihatan tertekan dan menderita?
"Mas marah sama saya?" tanya saya, jangan-jangan sudah salah ngomong.
Dia menggeleng cepat.
"Apa mas bingung?" saya tidak percaya.
Dia diam dulu. Mungkin sedang menyusun kalimat di kepalanya untuk menjawab, karena tidak enak hati kalau saya tersinggung dengar jawaban jujurnya nanti. Tapi dia tetap bilang tidak. Padahal saya lebih senang kalau dia jujur saja, daripada saya yang penasaran ingin tau kenapa wajahnya berubah.
"Mbak orang mana sih?"
Akhirnya dia bersuara, sambil menatap saya dengan ekspresi penuh tanya dosa-apa-saya-sampai-dihukum-Tuhan-pagi-pagi-sudah-harus-berurusan-sama-wartawan-seperti-ini. Sumpah. Semua orang yang saya temui di perusahaan itu dalam satu hari kemarin, tanya begitu semua. Dan tidak ada yang percaya kalau saya jawab saya orang Cina.
"Kenapa memangnya?" saya balik tanya.
"Mbak kok buru-buru sekali dan ngomong kayak marahi aku," keluh dia.
Lha! Padahal saya sama sekali tidak lagi marah atau buru-buru. Pasti karena bicara saya cepat dan saya ngomong terus dari tadi. Atau jangan-jangan intonasi suara saya terlalu ceria dan bersemangat (baca: meledak dan membentak). Belum sempat bantah, dia sudah melanjutkan daftar komplainnya. "Saya kan bingung. Ini ada apa, mbak kok tiba-tiba tanyain soal program-program kita," rajuk dia.
Iya, benar, merajuk. Bukan mengucapkan dengan nada tegas menuntut jawaban. Tapi lebih seperti suara keluhan yang manja. Dan sekarang saya meragukan kelaki-lakiannya.
Saya kira atasan dia sudah beritahu saya akan ke sana pagi-pagi untuk ngobrolin program unggulan mereka. Sepertinya ada sedikit miss. "Tadi ditanya katanya nggak bingung, sekarang bilang bingung. Trus Mas kok nggak nanya dari tadi? Saya kira mas sudah ngerti. Masa mas nggak tau saya?" :D Saya ucapkan semua itu tidak lebih dari 10 detik. Tapi kalimat terakhir penuh percaya diri itu yang sungguh bikin dia bengong. Dia -produser tiga program live unggulan- memandang saya dengan tatapan ngidam-apa-dulu-ibunya-waktu-hamil-?
Kesan pertama narasumber pada saya macam-macam. Tapi selalu punya satu kesamaan: pasti tanya di mana letak habitat asli saya. Dan kadang saya merasa suatu saat bisa digampar sama narasumber. Untung saja yang selama ini saya temui, selalu orang-orang yang memang sangat berharap kegiatan, prestasi, atau kesibukan mereka maupun perusahaan diberitakan. Jadi mereka cenderung menjaga sikap dan memperlakukan saya baik-baik. Bayangin, ya. Wawancara soal program TV unggulan untuk saya muat sinopsisnya saja, hampir perang. Bagaimana nasib saya kalau harus investigasi kriminal? Sudah jadi tumpang mungkin.


5 comments:
hahaha ...
setiap kali aku nanya "emang yang namanya mbk pipit tu mana seh?" semua yang tau pasti bilang "pokoke areke lek ngomong cuepettt", dan sayangnya sampe sekarang kita belum pernah ngobrol panajang lebar, kecuali obrolan singkat di shangrila pas puasaan kemaren ... makanya, sampe sekarang aku masih penasaran buk ...
btw, tv mana seh? trus sapa si produser itu? kali aja aku tau, dan bisa membayangkan wajah bingungnya ... :p
pipit.....suara elu pasti gue banget deh.ahahahahh. Maksudku suara dan gaya bicaramu mirip aku. Jadi kl suatu saat kamu ketemu aku en ngobrol seru pasti dipikir kita berdua lagi mau carok kali y a.hahhahahaha
Aku sedang berusaha memelankan suaraku yg udah mencapai 10 desibel ini dan mengatur intonasi bicaraku supaya tdk terlihat muring muring sama lawan bicara..tp apadaya...lom berhasil euy...hhahahhaa
mbak aslinya mana ?
*kabur...*
atau kalau harus menginvestigasi siapa sebenarnya bapak biologis dari anak sarah azhari kikikikikikik....
produser program tv terkenal aja sampe merajuk, gimana nasib Ajeng? ;p
ngga apa pit, kalau aku terkenal makannya cepet, kamu ngomongnya cepet. hehehehe..
kalau si santika....mbangun rumahnya cepet tuh. *ngiri
Post a Comment