Thursday, September 18, 2008

Teman baik saya cerita.

Pacarnya yang sangat cantik itu barusan ultah. Teman saya ngado tas, karena setahu dia semua perempuan pasti menggilai tas, sepatu dan perhiasan. Padahal, kalau begitulah kriteria perempuan menurutnya, berarti di mata dia saya bukan perempuan.

Tas yang saya bawa sehari-hari bukan handbag. Juga bukan merk terkenal seperti yang dipakai Paris Hilton, misalnya. Melainkan tas pinggang kecil seperti punya -ehm- Ariel yang bisa diikatin di paha itu. Tas ini bahkan tidak ada merknya (sumpah, saya barusan nyari-nyari di seluruh bagian dan nggak nemu merknya! :D). Itu juga nggak beli. Tapi dioleh-olehin Mas Agung, humas SCTV waktu ketemu saya di TP.

Ini memang bukan tas yang feminin. Tapi sangat praktis dan cukup untuk kamera, ponsel, pulpen, notes, dan dompet. Juga masih cukup untuk menyelundupkan cookies tidak termakan di acara jumpa pers (!). Waktu ada pertemuan wali murid di sekolah Ajeng, saya ternyata satu-satunya ibu yang datang pakai tas pinggang.

Saya juga bukan kolektor sepatu. Dan saya tidak punya sepatu berhak. Kalau ada undangan manten, saya akan datangi rumah tante, pusat peminjaman sepatu berhak. Sepatu dan sandalnya banyak. Ukuran kakinya sama dengan saya. Dan dia mengizinkan saya pinjam yang mana saja dan kapan saja. Sedangkan sepatu harian saya Outdoor Plein Air-nya Adidas. Keren dan nyaman. Sangat ringan walau dipakai keluyuran ke tujuh lokasi seharian. Ini athletic shoes tanpa tali. Tinggal masukin kaki. Cocok untuk saya yang selalu buru-buru.

Perhiasan? Sejak kecil anting saya selalu hilang sebelah. Saya juga sering lupa barusan lepas cincin di mana pas mau mandi dan tidur (kenapa, ya? Saya nggak enak tidur atau bersentuhan dengan air sambil pakai cincin). Semua cincin yang saya punyai saya kumpulin ke kotak kecil di laci lemari kamar. Hanya dipakai sekali-sekali kalau lagi ganjen.

Akhirnya teman baik saya bingung. Jadi, saya sukanya apa? Sesuatu yang maksud dia merupakan petunjuk bahwa saya adalah perempuan. Jawabannya tentu saja lingerie. Saya pecinta pakaian dalam yang cantik. Saya akan pikir 20 kali dan itu pun belum tentu jadi beli, kalau naksir baju seharga Rp 200-300 ribu (bagi saya itu mahal, lho). Tapi saya tidak akan berat hati membeli bra supercantik seharga itu.

Budi pernah tanya, apa pentingnya sih pakai daleman bagus dan seksi? Toh yang lihat ya kita sendiri. Saya sulit menjelaskan argumentasi saya dengan kata-kata. Yang saya rasa, cantik di dalam sama pentingnya dengan cantik di luar. Beda pakai lingrie cantik-seksi-mewah dengan lingerie biasa-pokoknya menutupi aurat, kurang lebih sama dengan bercinta setelah marahan dan bercinta waktu kelelahan. Bercinta setelah marahan selalu terengah-engah dan menggairahkan. Bercinta waktu kelelahan sering mengecewakan. Ingin cepat selesai dan asal orgasme saja.

9 comments:

maggie said...

hihihi..., kalo aku gak terlalu pusing ama lingerie, justru yang suka beliin swamiq, hhehe, kalo pas jalan2 oleh2nya sudah bisa ditebak. Aneh jg, katanya malu juga pas belinya hehehe, katanya pengen gimana donk!, padahal ntar dilepas juga lho! percuma mahal juga!

Febrie Pereiza said...

ahh aku setuju kalo soal lingerie, *tosss dulu aahh* .. mendingan ngluarin duit buat beli lingerie mahal daripada baju .. hehehe ..

santika saraswati pribadi said...

hahaha ...
semakin banyak tau crita tentang dirimu semakin sadar klo kita banyak kemiripan ...
kira2 kenapa ya kita ini sangat memuja lingerie ... hmmm ... padahal luarnya seringkali malah berantakan ...

anyway ... gak sabar untuk segera bertetangga ...

Zeeva Athena Cakranegara said...

rasanya seperti punya rahasia kecil, waktu orang2 membuka rahasia mereka di depan umum, kita punya rahasia kecil yg hanya sedikit orang yg tau ;p

Well...walaupun analogi bercinta saat marahan dan saat kelelahan itu juga sudah cukup pas menggambarkan kenikmatan ber-lingerie mewah.

Luky Ekowati said...

gak papa pit..membeli lingerie yang bagus dan mahal itu selain untuk kepuasan diri sendiri juga ibadah kan..terlihat cantik dan sexy dimata suami en insyaallah nyenengin suami..he.he..he....

Yudhita said...

Hai Jeung Pipit. Posting keren dan aku kutip dikit buat nambahin artikelku ya..Boleh nggak boleh tetep boleh yaaa....Hehehee.....

I-Think-Oke said...

Pertama saya mohon maaf atas kesalahan fatal yang saya buat. Saya tidak menyangka bahwa kalimat hiperbola dan penambahan membuat Mbak Pipit tersinggung.
Sungguh saya tidak pernah bermaksud melecehkan atau maksud-maksud jelek lainnya. Kadang, saya memang memasukkan gaya bercanda ke dalam artikel. Mohon maaf atas kekhilafan yang saya sengaja tapi tidak ada maksud jelek apapun.
Terima kasih atas kritiknya dan ini akan membuat saya lebih hati-hati ke depannya.

gajah_pesing said...

Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:
Dia lupa betapa berharganya dia...

tapi saya suka dengan poto-poto diatas...

Nunik Achmad said...

boleh juga tuh mbak argumennya tentang mengapa harus pakai lingerie cantik dan seksi....