Ini Rumah, Bukan Gudang
Ini rumah. Bukan gudang. Mari kita isi dengan yang kita sukai saja. Bukan kursi patah. Bukan kasur tipis. Bukan meja usang. Bukan kompor bobrok. Bukan horden dekil. Bukan tikar rusak. Bukan bantal bau. Bukan apa-apa yang kebetulan tidak terpakai di suatu tempat kemudian dibawa ke rumah ini dengan alasan daripada tidak ada, atau eman-eman tidak terpakai di sana.
Saya marah sama Budi kemarin.
Sudah lama kami numpang di rumah orangtuanya, dan saya sering sumpek melihat banyak barang-barang tak terpakai dipertahankan. Saya tidak mau ribut tentang itu. Tapi saya berjanji, jika kelak punya rumah sendiri, saya hanya akan mengisinya dengan barang-barang terpakai yang juga saya, Ajeng dan Budi sukai. Budi setuju tentang itu, sejak rumah kami bahkan masih berupa tanah datar.
Rumah ini berhasil kami miliki dengan penuh pertolongan Yang Maha Penolong. Kami tidak dalam kondisi keuangan yang siap beli rumah, saat membelinya. Tapi banyak sekali kemudahan dan jalan yang tidak pernah kami pikirkan, dibukakan Tuhan. Semua yang saya dan Budi idamkan ada di rumah ini.
Pertama, tidak jauh dari rumah mertua. Itu karena kami akan tetap menitipkan Ajeng separo hari selama saya tetap bekerja. Kedua, pojok. Budi tidak mau rumah berisik. Ingin istirahat sepulang kerja di lingkungan yang tenang. Yang jalan di depannya tidak ramai dilewati banyak kendaraan. Ketiga, bangunan mungil dengan ukuran tanah melebihi standarnya. Waktu beli, pilihannya ya tinggal satu unit ini. The one and only. Tipe 36 dengan luas tanah 154. Rumah kami bahkan lebih kecil dari kamar tidur bapak-ibuku di Kendari.
September Insya Allah sudah jadi. Tapi kami tidak buru-buru harus menempatinya tahun ini atau tahun depan. Jadi, tidak ada alasan kuat untuk wajib mengisinya segera. Beli kasur impian saja, kami masih harus bersabar menabung tiga bulan. Sofa empat bulan. Lemari satu bulan. Mobil 10 tahun :D
Bagi yang lain, ini mungkin hanya rumah kecil biasa. Tapi bagi saya dan Budi, ini impian yang tidak pernah kami kira akan benar-benar menjadi kenyataan. Persis seperti yang kami inginkan. Penghematan besar-besaran setengah tahun terakhir, juga sebuah perjuangan. Membatalkan rencana liburan ke Jogja. Mengganti pesta ulang tahun Ajeng dengan tumpengan kecil. Mengurangi acara makan di luar. Hidup pas-pasan.
Saya tidak bermaksud mengeluh. Saya bersyukur. Saya tahu proses ini membuat kami begitu mencintai rumah ini, dan betapa kami akan sangat menghargainya nanti.
Tapi Budi kadang lupa. Dia bersemangat sekali waktu tahu ibu akan beli kursi baru untuk mengganti kursi ruang tamu. Ternyata dia sudah naksir kursi rusak itu untuk dibawa ke rumah kami. Padahal kursi itu sudah seumuran dia. Padahal sudah tidak empuk. Padahal kulitnya sudah robek. Jadi, saya ingatkan dia tentang komitmen untuk mengisi rumah hanya dengan yang kita sukai. Itu merupakan salah satu wujud penghargaan kita pada rumah ini. Toh kita tidak harus segera menempatinya, kan? Tidak papa tidak punya sofa dulu sampai tahun depan, sampai uang untuk membelinya terkumpul.
Akan kita isi rumah ini dengan yang kita sukai saja.
Saya dan Budi sering repot menahan horny pada Minggu siang, satu-satunya siang dalam seminggu yang kami lewatkan bersama. Tidak mungkin bercinta sebelum Ajeng tidur siang. Dan tidur siangnya selalu menjelang sore, waktu saya sudah siap-siap berangkat kerja. Rumah ini akan menjadi tempat yang halal untuk kami bercinta kapan saja kami ingin. Ajeng bisa dititip ke mertua sebentar. Perjalanan ke rumah ini tidak lebih dari 10 menit. Bercinta di sana juga tidak perlu lama. Ini khusus untuk quick sex. Hanya untuk bercinta yang sudah sulit sekali ditahan, tapi tidak bisa dilakukan karena lingkungan tidak memungkinkan. Jadi, tidak perlu pusing belum ada kasur. Ini quick sex. Jangan berbaring, berjongkok, apalagi nungging. Kita bisa melakukannya berdiri.
Ini rumah. Bukan gudang. Akan kita isi rumah ini dengan yang kita sukai saja. Bercinta termasuk di antaranya ;)


11 comments:
Ini rumah. Bukan gudang. Akan kita isi rumah ini dengan yang kita sukai saja. Bercinta termasuk di antaranya ;)--------->
"so sweat.."
Ass, Wr, Wb.
Baru pertama mampir, dan baca tulisannya. Langsung teringat ke keluarga sendiri. Terima kasih atas tulisan singkat ini yang menurut saya jujur dan tegas.
Wss, Wr, Wb.
Ini rumah yang luas cinta penghuninya lebih lega dari gudang.. di-isi dengan kehangatan dan keceriaan penghuninya dimana rahmat illahi senantiasa bersemayam disana.
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat.
Bu Pipit... cuitt.. cuitt... hehe. Apa kabar dulu deh Bu? Lamaaa banget aku ga denger kabar u. Aku kirain juga u dah ngga hobi ngeblog lagi karena terakhir aku liat (kapan ya? udah luama banget juga sih) blog u ngga diupdate. So, I guess u udah ngga suka blogging lagi sama kaya aku yang nelantarin dua blog luamaaa bangett. hehe
Kedua, aku seneng banget u masih bikin tulisan2 yang renyah2 plus horny2-an (huahahhaa. pipit buanget gitu loh). Soalnya aku ni paling suka baca blog tapi paling males ngupdate blog sendiri. Kalo blog orang lain kosong kesel, tapi kalo blog sendiri kosong masa bodoh :P
Ketiga, selamat, selamat, selamat ya bu dah punya rumah ndiri. jadi pengeeen... bukan soal besar kecilnya Pit, mo besar kek, mo kecil kek yang namanya rumah beli sendiri, dengan cucuran keringat sendiri rasanya seneng banget. That means apa yang kita lakukan selama ini --including heart fighting antara pekerjaan dan anak-- ngga sia2. Wah, aku bener2 seneng liat rumah u. Bagus lagi, Pit. Itu di daerah mana? Oke, salam untuk anakmu ya. Ngga nambah lagi? :P
serunya.... Yang penting dilakukan pertama adalah pasang gorden, jeung.
Hihiiiiihihi...
surya regency?
apakah kita bakal bertetangga ?!?!?!?
Selamat udah punya rumah sendiri ya mbak. Hebat loh bisa nahan diri untuk mewujudkan rumah impian :) Salut banget!
hihihi ...
insya allah aku di blok d buk ...
apakah rumahmu yang pualing puojok buanget itu?
hahhhhh ... anyway tulisan ini memotivasiku buat nylesein tulisanku tentang rumah itu juga, yang sempet tak tinggal karena capek ngadep komputer ...
Salam Hormat dan Salam Kenal, saya baru baca blog ini dan saya teringat akan kisah saya mengenai keinginan untuk mempunyai rumah sendiri juga. yang nota bene rumah di Di Bali harganya cukup gila2an tapi dengan perjuangan yang keras akhirnya rumah impian dapat saya wujudkan....:) terima kasih atas kesempatannya
top, to the max :), two thumbs up..., wise bgt sih...
saya ko seperti mengenal tampilan rumah ini ya...mirip sama rumahku.....
Post a Comment