Friday, February 15, 2008

Laki-Laki Kebanyakan Mikir

"Kebanyakan mikir!"
Saya lupa pernah bilang begitu ke Ichal, waktu teman saya nan gagah ini mempercayakan sebuah curhat yang juga saya lupa isinya apa. Tapi dia ingat betul. Betul-betul ingat tentang curhat pertamanya hampir 15 tahun lalu itu, yang saya jawab dengan kesimpulan "Kebanyakan mikir!", persis seperti yang saya katakan pada dia beberapa hari lalu.

Ichal, laki-laki paling cakep yang mau menjadi teman saya, mendapat tawaran tugas ke Afghanistan. Dijadwalkan hanya dua minggu. Mengerjakan proyek pembangunan air limbah di area militer. Dan, pada saya, dia mengaku ragu berangkat dengan alasan takut mati. Itu setelah dia membaca semua berita terbaru menyangkut Afghanistan, yang bikin nyalinya ciut seperti penis baru selesai ejakulasi (Maaaaab kalau kurang sopan. Ini yang pertama kali terlintas di kepalaku untuk menganalogikan ciutnya Ichal).

"Kalau nggak berangkat hanya karena takut mati, lebih baik tinggal di rumah saja sampai sisa hidupmu," kata saya. Ichal setuju bahwa mati bisa terjadi di mana saja. Dan bahwa statusnya yang belum beranak-beristri akan lebih meringankan langkahnya untuk pergi ke sudut bumi manapun. Tapi dia tetap tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bekerja di negara Karzai itu.

Saya aslinya heran kenapa dia takut mati. Kalau saya yang takut mati, wajar. Bergelimang dosa. Tapi dia? Setahuku jauh benar dari godaan setan yang terkutuk. Ibadahnya bagus. Hubungan sama orang juga bagus. Tidak durhaka. Nurut pada orangtua.
Dan di antara teman laki-lakiku yang berwajah coverboy, hanya Ichal yang belum pernah pacaran. Satu kali pun. Maka dia kemungkinan besar juga belum pernah melihat perempuan telanjang langsung di depan mata. Belum pernah pegang-pegang. Belum merasakan dioral. Masih serba orisinil. Masa iya masuk neraka? :p

Saya hampir kehabisan akal untuk membujuknya menerima tawaran itu. Bayangkan berapa sedikit orang yang berkesempatan mendapat kepercayaan ditugaskan ke Afghanistan. Sampai saya akhirnya mengatakan, "Toh kalau ajal memang akan menjemputmu di sana Chal, setidaknya kamu akan mati dengan gaya."

Dia akan diberitakan seluruh media di Indonesia. Arsitek Jogja tewas tertembus peluru Taliban. Ganteng dan perjaka pula. Mending begitu daripada mati dengan tidak keren di Kemaraya, kampung asalnya di Kendari. Mati karena tergelincir dekat sumur. Atau nggak sengaja nelan biji cempedak. Atau tersedak air tebu. Halah. Iseng bener alasan matinya. Bikin kasihan malaikat pencabut nyawa saja nanti malah.

Ichal kemudian mengabarkan keputusannya menerima tawaran itu. "I'm so proud of u," kata saya. Saya doakan semua akan berjalan lancar. Karena kalau tidak lancar, saya tidak mau nantinya disalahkan sebagai pihak yang sukses membujuk dia. Saya paksa dia berjanji. Jika nanti benar akan mati di Afghanistan, tolong jangan hantui saya dong. "Dasar Yahudi," sungut Ichal.

4 comments:

Ia said...

iya, laki2 memang kudu lebih banyak mikir, pit. kan kepalanya dua, hihihiih...

Adit said...

Tapi salut sama mbak pipit. Biar orangnya kadang nyebelin..tapi temennya banyak. suka baca tulisannya karena kayak orang ngobrol. jarang wartawan bisa nulis kayak gitu..:P

try said...

si Ichal temen kita yang cakep ituh?? Sekarang udah di Afgan toh? Ough, terakhir ketemu dia taon 2006. Kabarmu piye, jeng?

Anonymous said...

hahaha..dia emang belum pernah liat wanita telanjang, tapi liat pria telanjang SERIIING!!!
BHuahahahah...pisss Chal!!!