Sunday, February 10, 2008

Hati Yang Tertinggal

"Saya tidak paham kenapa redaktur seperti ini dipertahankan!"
Bayangkan apa yang saya rasa waktu mendengar kalimat itu diucapkan direktur pemilik koran tempat saya bekerja, di hadapan seluruh awak redaksi, dan redaktur yang dia maksud itu adalah saya. Meski ternyata, satu jam setelahnya, saya menerima SMS dari dia, bahwa dia (demi Allah, tulisnya) tidak tahu bahwa halaman yang kesalahannya dia soroti dalam rapat tengah malam itu, adalah garapan saya.

Saya tekanan batin. Bukan gara-gara teguran keras itu. Tapi karena tekanan batin yang memang sudah saya rasakan sejak 4-6 bulan terakhir. Saya merasa tidak lagi bekerja sepenuh hati. Tiap kali berangkat, begitu melangkahkan kaki keluar rumah, saya tahu sebagian hati saya tertinggal di sana bersama Ajeng. Dan bekerja tidak lagi serasa sedang bersenang-senang. Kali ini, dalam 4-6 bulan terakhir, saya merasa memang benar-benar sedang bekerja.

Saya ingin di rumah saja sama Ajeng. Kecintaan yang membuat saya bertahan tetap bekerja, lama-lama luntur sendiri. Bukan berarti saya berhenti menyukai menulis. Saya senang sekali menulis. Tapi tidak suka bekerja. Atau mungkin, lebih tepatnya, saya tidak suka jauh dari Ajeng.

Saya bayangkan akan sangat bahagia kalau bisa di rumah saja. Menemani dia dari bangun tidur sampai akan tidur malam. Tetap ada saat dia pulang main. Tetap ada saat dia bangun tidur siang (ini jadwalku melarikan diri, karena belakangan dia selalu menangis kalau ditinggal kerja. "Ibu kejanya (kerja) siang-siang!" pinta dia. Padahal, itu aja sudah hampir jam 14.30).

Kecintaan pada menulis akan saya salurkan dengan menulis cerita-cerita pendek anak-anak untuk Ajeng. Tentang bunga putri malu yang pemalu. Tentang semut penyuka gula-gula. Tentang pengalaman pertama Maryam ke dokter. Tentang laba-laba kecil memanjat pipa air. Apa saja.

Dan kecaman bos besar saya malam itu memang cukup bikin saya malu. Mending lari telanjang keliling lapangan siang hari. Tapi, harus saya akui, perkataan dia ada benarnya. Dan makian dia malam itu di hadapan semua reporter, fotografer, redaktur bahkan layouter akhirnya justru menjadi cambuk paling hebat untuk spirit saya yang kendor. Ayo semangat lagi! Mari bekerja pakai hati. Tidak ada gunanya berkhayal gaji Budi Rp 1 M per bulan, supaya saya bisa hidup berfoya-foya bersama Ajeng tanpa perlu ikut bekerja.

Toh pilihannya hanya dua. Kembali mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari.

2 comments:

uwie.wk said...

ahahha...salam manis ya Pit buat bu Nanny Wijaya (the true perfect women in ever)

si dhita said...

Good mother. Seorang ibu yang hatinya selalu di rumah dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk anaknya, buat saya adalah perfect women. Bukannya meninggalkan sang anak di rumah demi karier yang nggak jelas juga, dan demi gaji yang nominalnya tak mencapai nol tujuh digit.