Dasar Yahudi
Saya tidak punya darah Yahudi. Tidak pula seorang zionis. Tapi saking sakit hatinya dengan saya, banyak teman yang secara ngawur mencap saya sebagai Yahudi. Reaksi saya? Tidak peduli. Salah sendiri sakit hati. Gyahaha.
Biasanya, sebutan itu keluar dari mulut mereka saat sifat asli saya muncul. Suka semaunya sendiri. Membuat keputusan tanpa mempertimbangkan pengaruhnya pada yang lain. Tegaan.
Tahun ini, saya memasukkan 'Mempertebal Empati' dalam daftar resolusi 2008. Sudah cukup banyak teman yang menjadi korban ketidakambilpusingan saya. Jelas bukan salah mereka kalau sangat tidak suka pada saya. Saya baru insyaf setelah tahu, sikap seperti ini telah menyakiti perasaan seorang teman baik.
Tapi mempertebal empati itu ternyata lebih susah dari yang saya bayangkan. Kadang saya sadar kalau mengucapkan kata A, atau berbuat B, kemungkinan besar akan menimbulkan ketidaknyamanan. Menciptakan luka baru di hati lawan bicara. Tapi saya suka tidak bisa menahan diri melakukannya.
Misalnya waktu ke rumah Uti (eyang putri). Uti ini pecinta makanan sehat. Segala tanaman hijau ditelan. Dan saya sebaliknya. Saya pecandu makanan kurang sehat. Gawatnya, dia sering bujuk saya untuk ikut mencicipi menu-menu sehatnya. Kalau gagal membujuk, jurus berikutnya dikeluarkan. Memaksa.
Haduh. Masa saya disuruh minum setup terong? Padahal, terong itu hanya bisa saya makan kalau rupanya sudah jelek maksimal. Gosong dibakar. Kalau masih mulus dan sensual, saya tidak ada hasrat menyentuh.
Maka bayangkanlah. Tolong bayangkan bagaimana saya melawan dorongan kuat untuk mengomentari minuman favorit buatan Uti itu, kalau dihidangkan pas saya datang. Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui, saya tidak suka rasanya. Tidak suka baunya. Tidak suka warnanya. Dan wajah saya pasti langsung kusut.
Sebaliknya, kalau memang suka, saya tidak kenal malu. Waktu sedang lapar di tengah kota setelah liputan ke sebuah acara yang dengan teganya tidak menyediakan makanan berat untuk wartawan, saya mampir ke sebuah hotel. Telpon humasnya. Minta makan. Sop buntut bakar di sana memang menakjubkan. Walau masih kalah dengan sop buntut hotel lain, yang (sebalnya!) tidak punya niat baik menjalin hubungan dengan media.
Tapi ada juga segelintir orang yang baik-baik saja dengan caraku. Tidak sakit hati. Tidak pernah protes. Pasrah saja. Atau jangan-jangan saya yang tidak peka pada reaksi mereka ya?
Tulisan ini sekaligus pesan untuk teman-teman yang pernah atau nanti sakit hati oleh saya. Kalau tersakiti, tolong jangan bergunjing di belakang saya. Katakan saja. Saya janji tidak marah. Karena teguran itu justru akan membantu saya memupuk empati. Jika tidak, mari kita selesaikan saja urusan ini secara adat.
Saturday, February 09, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment