Monday, August 20, 2007

Orgasme saat melahirkan.

Teman saya terkikik tidak seksi waktu mendengar jawaban saya ini. Dia kira saya pura-pura. Padahal, sumpah, tidak. Tadinya dia -yang sedang hamil anak pertama- tanya bagaimana rasanya menjalani persalinan. Saya sudah memutuskan tidak akan bercerita karena orang-orang sebelumnya yang mendengar kesaksian ini, menuduh saya hanya mengarang cerita atau sedang mabok berat saat melahirkan dulu. Kurang ajar.

Tapi setelah satu ekor bandeng bakar tanpa duri, dua nasi, es leci, cah kangkung, dua bungkus krupuk Palembang dan sambel mangga dia jebloskan ke perutku, ya sudahlah. Hati saya selalu luluh kalau kekenyangan. Jadi saya ceritakan saja apa adanya tentang proses melahirkan Ajeng dulu.

Bahwa yang menurut saya lebih bikin menderita bukan sakitnya kontraksi, melainkan melawan rasa ngeden saat kontraksi itu datang. Walau sensasi ngedennya luar biasa, dokter memang tidak memperbolehkan ngeden karena bukaan belum sempurna (fyi, anak tetangga matanya cacat karena pas lahir harus dikop, gara-gara ibunya ngeden terus selama kontraksi padahal bukaan belum sempurna, yang menyebabkan pembengkakan di jalan lahir). Sempat tidak kuat, saya akhirnya sempat beberapa kali ngeden sepuas-puasnya.

Mau tahu rasanya? Demi Allah yang menciptakan bumi dan seluruh isinya, sedahsyat orgasme. Jadi kalau ada yang tanya seperti apa susahnya persalinan itu, saya menjawab seberat saat harus menahan orgasme demi bisa merasakan simultaneous orgasm. Ya. Seminta ampun itu. Seberat itu. Sesusah itu. Sungguh.

1 comments:

Luky Ekowati said...

Hi.hi..hi...ya ampun kamu tuh kepikiran aja ya. Emang kodratnya jurnalis itu selalu kreatif kali ya....hi.hi.hi..(nerusin ketawa dulu)