Friday, October 13, 2006

Kalau Boleh Memilih

Tiap ketemu bapak, ada satu cerita pendek yang selalu dia ceritakan ulang, tapi tidak pernah bosan saya dengar. Bapak bilang, sejak dulu dia sudah terasa saya akan menjadi anak yang 'menjauh' (sodara saya empat, semua tinggal di Kendari. Saya satu-satunya yang tinggal di lain pulau). "Dari dulu Mbak, Bapak sudah terasa kamu pasti akan tinggal jauh suatu saat nanti. Sejak kamu mulai lancar membaca dan menulis, kamu selalu bilang mau jadi wartawan, ingin jadi wartawan. Cita-citamu nggak pernah berubah bahkan sampai besar."
Saya nggak ingat cerita itu. Yang saya ingat, waktu SMA, saya iri pada Hilman Hariwijaya, Gola Gong, dan bubiN lantanG (belakangan saya baru tahu kalau nama aslinya Ferry Irwanto, wartawan ekonomi Kompas), orang-orang yang menurut saya bisa hidup hanya dengan menulis. Surga dunia.

Jadi, meski kadang masih memaki dan mengutuk atasan dalam hati (tapi bukan atasan yang biayai IPD :D), Tuhan tahu kalau saya sebenarnya bersyukur sekali dengan pekerjaan ini. Menjadi wartawan merupakan mau saya sejak kecil. Apa yang lebih membahagiakan selain impian terindah menjadi kenyataan?

Abrakadabra!! Ternyata ada! *halah*
Iya, sungguh. Ternyata ada yang lebih membahagiakan buat saya, selain menekuni dunia jurnalistik ini. Menjadi ibu, tugas yang nggak pernah sekalipun saya idam-idamkan sejak kecil, bahkan setelah menikah (saya hamil di luar rencana. Inginnya nanti-nanti saja, tapi nggak mau KB, dan tahu-tahu sudah terserang morning sickness). Saya nggak pernah membayangkan akan menyukai kegiatan memandikan anak, menggilai ciumannya yang kerap disertai gigitan, dan mencintai aroma khas mulutnya saat akan tumbuh gigi baru.

Nggak pernah saya kira bahwa memiliki anak adalah peristiwa yang paling mengubah hidup. Ini lebih dasyat dari pernikahan, pekerjaan baru, atau perpisahan dengan orang terkasih. Karena hanya ini satu-satunya yang nyaris melunturkan rasa cintaku pada menulis. Cuma ini yang nyaris sempurna menggoyahkan kengototanku untuk tetap menjadi wartawan. Saya seperti baru sadar, bahwa ada juga nggak enaknya jadi wartawan, setelah Ajeng lahir.

Salah satu kegiatan yang jarang bisa saya rasain adalah nidurin Ajeng malam hari. Dia sudah lelap waktu saya masih di kantor milih berita headline, nyari foto A, ngedit naskah yang kepanjangan, dan urusan kantor lain. Tapi kadang keajaiban datang pada waktu yang nggak pernah saya duga. Tahu-tahu Ajeng belum tidur waktu saya pulang. Liat dia lari nabrak kaki saya, otak pasti langsung otomatis berputar mengulang semua kegiatan seharian tadi, sejak bangun tidur sampai sebelum keluar kantor menuju pulang.
Saya cari-cari... apa, ya? Apa? Apa karena ngasih uang ke pengemis di traffic light? Atau balas SMS nggak penting dari orang yang memang sengaja saya hindari? Atau lipetin jemuran mertua sebelum berangkat? Atau mengabulkan keinginan Budi untuk bercinta persis seperti maunya tadi pagi? :p

Aduh, saya nggak pernah bisa menemukan jawabannya. Saya selalu tanya ke Dia. "Tuhan, hal baik apa yang sudah saya kerjakan hari ini, sampai bikin Kamu menghadiahi saya kegiatan paling menyejukkan jiwa, untuk menutup semua kesibukanku hari ini?"
Dan saya tetap nggak pernah tahu jawabannya. Mungkin karena Tuhan tahu saya bertanya pada-Nya dengan niat busuk. Karena kalau bisa tahu apa yang Dia sukai, akan saya kerjakan itu tiap hari supaya bisa nidurin Ajeng terus.

Mertua pernah nyaranin saya ganti kerjaan, kasian liat saya selalu pulang tengah malam dan tetap harus ngantor walau Lebaran. Kerja apapun yang jamnya normal, asal bukan wartawan. Tapi itu sama artinya dengan menyiksa diri seumur hidup. Nggak sedetik pun waktu lagi wawancarai narasumber, berburu berita, ngedit naskah, bikin caption foto, ngawasi halaman di-lay out, nunggu narasumber yang doyan telat, atau nyari tempat liputan yang alamatnya nyelip di perkampungan, saya merasa sedang kerja. Anehnya, saya justru merasa lagi having fun.

Jadi, kalau boleh milih, saya nggak ingin pernah memilih antara Ajeng dan kerjaan. Menulis jelas cinta pertama saya. Tapi, Ajeng? Dari tadi saya nggak berhasil nemuin kata untuk menjelaskan secara tepat bagaimana berharganya dia bagi saya. Dan kalau suatu detik saya sampai pada titik yang memaksa saya untuk memilih, tentu bukan Ajeng yang akan saya korbankan. Karena sebesar apapun keinginan saya menjadi wartawan, saya tidak akan mampu menikmati, jika mendapatkannya harus dengan mengesampingkan Ajeng.

0 comments: