Friday, June 30, 2006

Best Present. Ever.

Sejak tahu vaksin Invasive Pneumococcal Disease (IPD), saya jadi mirip duta IPD. Dimanapun ketemu brosurnya pasti saya rampok untuk dibagiin ke teman-teman yang punya bayi. Vaksin ini sangat penting tapi belum banyak yang tahu. Satu saja kelemahan IPD. Mahal. Ralat. Muahal. Harga vaksin Hib gak ada apa-apanya. Bukan cuma karena Wyeth menjadi produsen tunggal vaksin untuk pneumonia, meningitis, bakterimia, dan sepsis ini. Tapi mungkin karena vaksinnya memang harus menempuh perjalanan jauh untuk sampai di Indonesia. Di Singapur, kata orang Wyeth sih, harganya kalo dirupiahkan sekitar 1,2 juta. Di sini, harga resmi dari Wyeth Rp 880 ribu, belum biaya dokternya.

IPD baru diluncurkan di Indonesia Januari 2006. Masuk Surabaya dua bulan kemudian. Padahal di beberapa negara, IPD sudah menjadi vaksin wajib sejak 2000. Dan saya niatkan Ajeng harus di-IPD. Berhubung usianya masih 15 bulan, dia butuh dua kali suntikan. Yang pertama sudah. Untung nggak panas dan rewel. Yang kedua dijadwalin dua bulan lagi. Nah! Saya kok dapat ide tentang cara mendapatkan dana IPD keduanya itu. Saya minta ke bos besar pemilik koran tempat saya kerja. Catet ya, bos besar, bukan bos yang tiap hari saya ketemu di ruang redaksi. Gyahahaha.

Sebelum ketemu dia Rabu lalu, saya pastiin dulu bahwa moodnya sedang bagus. Nggak ada satu orang pun di gedung 21 lantai ini yang kena marah. Suasana hatinya harus lagi senang. Waktu ketemu, dia memang agak surprise liat saya nyasar ke ruangannya itu. Dan perutku mendadak sakit sekali.

"Saya datang dengan niat sangat busuk, mau menagih janji yang kadaluarsa," kata saya. Dia bilang tidak papa. "Terima kasih sudah mengingatkan. Saya memang sering lupa," jawab dia. Trus saya mulai melancarkan rayuan.

Dulu waktu saya baru masuk setelah cuti nikah, beliau sempat nyamperin hanya untuk mengucapkan selamat dan ngobrol singkat tentang suamiku. Kata penutupnya nggak pernah saya lupain, "Ok Pit, selamat. Hadiahnya nyusul ya!". Tapi sampai saya kemudian hamil 9 bulan 11 hari, lalu Ajeng lahir dan umurnya satu tahun lebih, hadiah yang dijanjikan belum juga datang.

"Kalau waktu itu ucapan tentang hadiah hanya basa-basi, katakan saja, tidak papa. Saya akan berhenti bicara, nggak akan meneruskan omongan lagi dan langsung keluar dari ruangan ini," kata saya.

Tapi dia menjawab tidak. Itu bukan abang-abang lambe. Dia memang terlalu sibuk sampai harus selalu diingatkan tentang hal-hal seperti itu. Lalu, dia tanya apa yang saya butuhkan.

"Gampang kok. Hanya tiga huruf. IPD."
"IPD?"
"Iya, vaksin untuk anak yang sangat menguras gaji."

Dia langsung ngeh dan bangkit dari kursinya, buka pintu, berteriak memanggil Mbak Nana, Pemimpin Redaktur Tabloid Bunda. Dua seminar IPD di Surabaya memang dipegang Tabloid Bunda. Jadi Mbak Nana pasti tahu betul soal IPD ini.

"Na, IPD itu punya Wyeth ya? Dokternya siapa? dr Wawan? dr Bambang?" tanya dia.
Lima detik kemudian, pintu ditutup lagi. Pembicaraan diteruskan. Tapi sebelum mendapat jawaban pasti, saya katakan bahwa kalau dia menolak kado permintaan saya, tidak papa. Saya juga nggak akan menyesal karena tahu saya sudah berjuang tanpa batas. Saya pantas menyesal kalau nggak usahain cara ini karena nggak pernah tahu hasil apa yang sebenarnya bisa saya dapat.

Dia telepon dokter Wawan, yang memang dokternya Ajeng dan nyuntikin IPD pertama Ajeng awal Juni lalu. Dokter Wawan ternyata mantan redaktur Tabloid Bunda dan sudah dianggap adik sama bos besar saya. Dia minta, sebelum dokter Wawan berangkat nerusin kuliah ke Belanda 1,5 bulan lagi, sempatin dulu nyuntik Ajeng. Dokter Wawan langsung ngeh waktu bos bilang tentang wartawannya yang berniat vaksinasi IPD anak ke dia.
"Oh, yang masukin saya ke koran!" sahut dokter Wawan, ingat profil singkatnya yang memang saya tulis kapan hari.

Setelah dapat kepastian dokter Wawan tentang IPD tadi, bos menambahkan, "Nanti nagihnya ke saya ya!"

CIHUIIIIIIIII!!!!!

0 comments: