Akhirnya saya cium Ariel. Ya ya ya, memalukan. Biarin tapi. Saya malah agak kecewa karena ciumnya kurang greng :D Kejadiannya dua pekan lalu di lantai 24 Garden Palace Hotel. Selesai wawancara, saya tanya saja apakah dia boleh dicium. Ariel mengiyakan, agak ketawa. Dan dia sedikit menundukkan wajah, mengarahkan saya ke pipinya. Kalau pinter mustinya saya cium pakai bibir kan? Tapi yang terjadi malah cuma pipi juga yang saya tempelin di sana, saking bernafsuku, tergesa-gesa, khawatir dia berubah pikiran dan meralat jawabannya. Saya ingat, ada rambut-rambut jatuh tergerai di pipi kanan-kiri Ariel yang hangat sekali. Ato malah wajah saya sendiri yang menghangat ya? :D
Halah. Maklum saja kalau saya tambah kacau. Satu setengah bulan lalu saya tabrakan. Kejadiannya kayak apa saya nggak ingat. Apakah ditabrak, apakah nabrak, sapa yang saya tabrak, sapa yang nabrak saya. Mboh. Dibawa ke sebuah klinik di dekat lokasi, menangis dalam pelukan Budi, dilarikan ke rumah sakit malam-malam karena muntah nggak karuan, semuanya nggak tersimpan dalam ingatan saya. Padahal Minggu sore itu saya sadar, malah sempat kasih nomor telfon rumah ke orang klinik untuk menghubungi rumah. Yang saya tahu, tiba-tiba sudah hari Selasa. Jadi saya nggak buka mata sejak Minggu malam sampai Selasa sore itu. Pun setelah bangun, saya nggak ingat sapa-sapa aja yang kemudian datang besuk. Termasuk mertua, yang ngobrol panjang lebar sama saya.
Kata dokter, saya geger otak ringan. Saya nggak kuat bangun, nonton televisi, mandi, dan jalan, sampai berhari-hari. Otomatis libur 17 hari. Kalau malam, isi kepala saya bertengkar ribut sendiri. Sel-selnya saling memaki dengan kalimat panjang lebar. Padahal, makin panjang kalimat yang mereka ucapkan, makin sakit kepala saya. Malam lainnya, rasa sakit berpencar jadi delapan bagian. Posisi tidur kayak apapun yang saya ambil pasti sakitnya nggak pergi. Dan parahnya lagi, tiap bagian punya nama yang sama dengan nama-nama akademia AFI Indosiar. Masya awloh.
Halah. Maklum saja kalau saya tambah kacau. Satu setengah bulan lalu saya tabrakan. Kejadiannya kayak apa saya nggak ingat. Apakah ditabrak, apakah nabrak, sapa yang saya tabrak, sapa yang nabrak saya. Mboh. Dibawa ke sebuah klinik di dekat lokasi, menangis dalam pelukan Budi, dilarikan ke rumah sakit malam-malam karena muntah nggak karuan, semuanya nggak tersimpan dalam ingatan saya. Padahal Minggu sore itu saya sadar, malah sempat kasih nomor telfon rumah ke orang klinik untuk menghubungi rumah. Yang saya tahu, tiba-tiba sudah hari Selasa. Jadi saya nggak buka mata sejak Minggu malam sampai Selasa sore itu. Pun setelah bangun, saya nggak ingat sapa-sapa aja yang kemudian datang besuk. Termasuk mertua, yang ngobrol panjang lebar sama saya.
Kata dokter, saya geger otak ringan. Saya nggak kuat bangun, nonton televisi, mandi, dan jalan, sampai berhari-hari. Otomatis libur 17 hari. Kalau malam, isi kepala saya bertengkar ribut sendiri. Sel-selnya saling memaki dengan kalimat panjang lebar. Padahal, makin panjang kalimat yang mereka ucapkan, makin sakit kepala saya. Malam lainnya, rasa sakit berpencar jadi delapan bagian. Posisi tidur kayak apapun yang saya ambil pasti sakitnya nggak pergi. Dan parahnya lagi, tiap bagian punya nama yang sama dengan nama-nama akademia AFI Indosiar. Masya awloh.


0 comments:
Post a Comment