Friday, March 24, 2006

Bye Bye Wacoal

Halah! Selama ini ternyata saya salah pilih. Saya kira Wacoal is the hotest lingerie in the world. Saya menjadi pemakai setianya sejak masi umur belasan tahun. Beberapa kali ganti merk, tapi buntut-buntutnya selalu kembali ke pelukan Wacoal juga. Heran. Kok bisa gitu sih saya dulu ya? Dan saya baru benar-benar berpaling ke lain hati bulan lalu.

Tapi jeleknya, kalo lagi suka sesuatu, penyakit nyandu saya suka kambuh. Nggak bisa liat ada bra cantik merk yang lagi saya cintai ini, dipajang di etalase sendirian. Rasanya kasihan dan nggak tega. Ngesakno kata orang Jawa. Cantik-cantik gitu kok nggak laku. Rendanya yang halus seperti memanggil-manggil saya, merengek minta dibawa pulang. Nggak sampe hati menolak, saya pasti akan mendekat meski akhirnya batal mencurinya.

Saya memang agak rewel kalo soal lingerie. Longgar sedikit, gutbai. Talinya susah dibongkar-pasang, males pake lagi. Saya sering baca bahwa bra bertali kecil sebenarnya kurang bagus, meski dipakenya enak. Tapi masalah langsung terjawab sejak saya ketemu bra yang merknya dua kata ini. Semua branya bertali mungil tapi tetap kuat. Semua produknya, meski tipe sama, punya sentuhan khusus yang bikin dia tidak sekedar beda warna dengan yang lain. Ya pengaitnya dimodel silang, ya tali belakangnya berhias pita, ya pinggiran cupnya bergerigi, delele. Sama sekali nggak norak. Pokoknya, selain enak dipakai, juga bagus dilihat deh. Dijamin seksi. Cuma, merk ini rada diskriminatif. Dia hanya jualan bra bercup B.

Kegiatan rutin pulang dari belanja bra adalah fashion show. Yang ini private. Penontonnya sangat terbatas, hanya satu orang, Budi. Pertama nikah dulu dia selalu mengikuti jalannya acara dengan antusias. Ada bola di teve pun nggak dilirik. Tapi belakangan, dia rada-rada ilfil kalau tahu saya habis belanja lingerie. Bukan cuma karena gajinya saya pake berfoya-foya beli jeroan. Tapi fashion show ini adalah awal dari sebuah penderitaan panjang buatnya. Hihihi.

Iya dong. Sebagai supermodel gadungan, saya tetap harus tahu pendapat penonton setia pertunjukan saya secara detil. Jadi setelah nyoba sepasang lingerie, sesi tanya jawab pun dimulai. Bagian inilah yang sering bikin dia sebal.
"Bagus, sayang?"
"Bagus."
"Apanya yang bagus?"
"Ya bagus. Warnanya cocok sama Pipit, motifnya cantik."
"Bagus mana sama yang tadi?"
"Yang hitam?"
"Bukan, yang barusan ini tadi lho."
"Oh..nggg... bagus yang tadi kayaknya."
"Lebih bagus dimananya?"
"Keliatan lebih apa gitu..." (mulai kehabisan bahan)
"Keliatan lebih apa gitu apa?"
"Ya keliatan lebih bagus aja pokoknya dipake. Mungkin model cupnya yang bikin beda."
"Lho, sama kok, 1/3."
Diam 10 detik.
"Apa celananya ya. Yang tadi itu hipster?"
"Iya. Trus?"
"Lebih rapet di badan."
"Kalau sama yang hitam?"
"Yang hitam yang mana?"
"Yang pertama tadi."
"Aduh, lupa."
Halah!!

Terakhir-terakhir, dia punya jawaban andalan yang bikin saya cukup puas untuk tidak mengajukan pertanyaan lanjutan. Katanya, "Lebih bagus lagi kalau Pipit nggak pakai apa-apa."

0 comments: