Rabu Jahanam
Bayangin penderitaan saya pada hari Rabu.
Pertama, rapat reboan. Ini rapat mingguan yang dihadiri seluruh redaktur, para koordinator liputan, wapimred, manager iklan, pemasaran, pengaduan, keuangan, dan perwakilan layout. Hukumnya fardhu untuk diikuti. Dimulai jam 11.00 sampai 13.00. Telat 5 detik pun sudah dianggap cacat dan itu tercatat dalam laporan yang ditembus sampai ke pemilik saham.
Kedua, piket. Saya akan seharian di kantor bareng redaktur lain yang juga kena jatah piket Rabu. Nggak piket, tunjangan prestasi dipotong Rp 25 ribu. Belum lagi ancaman akan mendapat surat peringatan. Nah, jam piket sialan ini dimulai begitu rapat reboan selesai sampai pukul 23.00. Mampus.
Ketiga, 3r. Rapat reboan reporter. Dihadiri semua reporter, semua fotografer, semua redaktur, semua koordinator liputan. Dimulai begitu deadline selesai jam 23.00 sampai tak terhingga. Harakadah!!
Ini belum seberapa. Setengah jam lalu, saya baru registrasi absen cap jari yang akan diberlakukan mulai hari ini. Durasi ngantor kita sekarang ditentukan harus berapa jam. Padahal yang namanya kerja di media jam kerjanya bisa 69 jam sehari.
Jadi, tiap Rabu, saya berangkat jam 10.30 (setelah nitipin Ajeng ke bulek yang rumahnya 400m dari mertua) dan pulang sekitar jam 01.00 besoknya. Hasilnya, saya kebanjiran jam nganggur. Seharian di kantor bikin saya bingung cari-cari kerjaan mopun kesempatan melarikan diri sebentar. Siang saya berburu foto paparazzi atau chatting. Mood nulis selalu nggak bisa dipaksa untuk datang. Biasanya malam menjelang deadline baru dia muncul lalu bikin saya panik ngetik membabi buta.
Kalau lagi beruntung dan semua berjalan lancar, kerjaan saya bisa selesai jam 21.00. Kadang saya nyelinap pulang sebentar untuk sekedar menidurkan Ajeng lalu kembali ke kantor sebelum r3 dimulai. Yang namanya nyelinap, dikerjainnya ya pakai kucing-kucingan sama bos. Komputer nggak dimatiin, winamp tetap bunyi, tas masih di meja, bahkan jaket pun saya tinggal di sandaran kursi. Pokoknya pulang hanya bawa hp dan stnk. Biar dikira cuma lagi turun makan di cafe basement.
Meninabobokan Ajeng malam hari memang kegiatan eksklusif, mewah, dan langka buat saya. Sungguh. Hampir tiap malam dia tidur waktu saya sedang nyelesein naskah hl, repot bikin caption foto, sibuk motong berita yang kepanjangan, nugasi liputan acara besok, pilih foto yang harus dibuang, atau bahkan nelpon orang cuma untuk nanya ejaan namanya yang benar. Terkutuklah kamu wahai yang punya ide bikin rapat reboan. Huh.
Wednesday, February 15, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment