

It's a Girl!
Dulu saya anggap semua bayi mukanya sama, sampai 6 April lalu waktu anak saya lahir jam 08.15 wib. Tidak pernah saya liat yang secantik itu. Tolong jangan tersinggung ya ibu-ibu lain. Tapi sumpah deh, rasanya anak saya cantik-cantik sendiri di dunia.
Ramalan dokter memang salah. Pertama, anakku bukan laki-laki. Kedua, anakku bukan bayi cumlaude. Beratnya 3 kg dan panjang 50 cm. Lahir secara normal dengan durasi penderitaan 23 jam hampir non stop. Aktif kerja saya kira bakal mempersingkat kontraksi. Ternyata nggak juga.
Dan saya baru tau kalo kontraksi itu kayak jailangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar. Sejak Subuh sampe Isya dia datang dan pergi sendiri seenak-enaknya, sampai saya ge-er kalo bayiku pasti sudah mau lahir. Pas diperiksa ternyata masih bukaan 1. Saya ke rumah sakit jam 21.00-an dianter Budi dan mertua. Ketuban pecah jam 00.00-an, warnanya ijo dan masih bukaan 3. Ugh.
Untung Budi suami siaga. Sepanjang malam dia di sampingku nemenin berdoa sambil mijetin punggung. Suster-susternya sampe jatuh cinta sama dia karena menganggap Budi suami impian mereka. Dan saya nggak pernah liat Budi menangis seperti subuh itu, waktu dia terisak-isak seperti anak kecil diambil permennya. Dia bilang kasihan lihat saya kesakitan.
Mungkin anaknya tahu ya kalo ayahnya bakal nggak tahan liat dia keluar. Semalaman ditungguin, dia nggak lahir-lahir. Jam 8 pagi waktu ayahnya turun cuma 10 menit buat nyari teh anget, dia langsung lahir (belakangan Budi ngaku, dia nggak cuma nyari teh tapi juga sarapan rawon.. huh!). Saya panik karena dia nggak langsung menangis. Baru setelah telapak kakinya ditepuk-tepuk dan hidungnya diberi O2, suaranya keluar. Sekarang? Jangan ditanya. Ajeng Ulima Athaillah Kelana udah fasih menangis dalam 14 bahasa :D
Thursday, June 30, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment