Monday, February 07, 2005

Surat Cinta *bete mode on*

Di kantorku ada istilah surat cinta. Meski namanya surat cinta, nggak ada orang yang berdoa ingin dapat surat cinta ini. Sebab pengirimnya hanya satu. Big boss. Yang dikirimi biasanya para redaktur.

Bentuknya pun bukan lembaran kertas wangi dengan kata-kata romantis. Melainkan lembaran koran hasil kerja kita yang penuh coretan tulisan tangan dia. Kata-katanya bisa bikin hilang napsu makan. Penuh makian dan kritik pedas yang ditulis pake spidol merah. Biasanya, surat cinta ini nggak dikirim langsung ke redaktur yang bersangkutan. Tapi ditempel di papan putih dekat pintu masuk, biar bisa diliat sama semua orang yang masuk ke ruangan.

Beberapa hari lalu saya dapat surat cinta. Satu halaman disalahin semua. Kata big boss yang jarang muncul di ruang redaksi itu, saya redaktur pemalas. Masang foto kok nggak nyambung dengan judul. Gpp. Kenyataannya memang benar begitu.

Saya bosan garap halaman monoton yang penuh instruksi itu. Apalagi, sikap salah satu korlip (koordinator liputan) yang sejak dulu saya benci makin menyebalkan. Sibuk perintah ini itu, padahal nggak ngerti apa-apa. Taunya harus bisa. Harus jadi. Belakangan ketahuan kalo dia nggak ngerti bahwa kita hanya menggantungkan nasib foto internasional dan daerah pada afp.

Ironisnya, beliau ini orang yang dipercaya big boss untuk menentukan jumlah bonus alias tunjangan prestasi kita tiap tengah bulan. Kalo sekali aja nggak mau nurut, dijamin tp merosot. Sampai semua wartawan akhirnya menyimpulkan, penilaian ternyata bukan didasari hasil kerja kita selama sebulan. Melainkan berdasarkan rasa suka atau nggak suka dia sama kita. Jadi kalo ingin tp tinggi, nggak usah pontang-panting liputan sampai 5 acara sehari. Nggak perlu repot nulis 7 berita sehari. Cukup berbaik-baik saja sama dia. Sering puji, sering bagiin makanan.

Sayangnya saya nggak bisa menjilat. Dan nggak sudi. Jadi saya biarin saya tp saya merosot terus sampai kepotong 250 ribu. Toh uang segitu nggak bikin saya tambah kaya.

0 comments: