Monday, February 21, 2005

I guarantee it won't be easy.
I guarantee that at one point or another, one of us is going to want to leave.
But I also guarantee that if I don't ask you to be mine,
I am going to regret it for the rest of my life.
Because I know in my heart, you are the only one for me. (Runaway Bride)


Hari ini, satu taun lalu, saya dan Budi nikah. Acaranya singkat dan padat. Pagi ijab kabul, siang resepsi, siangan lagi check in. Nggak pake acara susulan ala Jawa (ngg.. apa itu namanya.. ngunduh mantu, ya?) karena saya paranoid sama lipstick dan keluarganya.

Adegan paling nyenengin di hari itu terjadi di kamar hotel. Jangan horny dulu. Sore itu, begitu selese bersih-bersih muka, saya dan Budi pesta uang. Huehehe. Ortu kita memang sinterklas sejati. Meski mereka yang modalin, labanya dikasih ke kita semua. Katanya sebage kado nikah. Tapi karna terlalu napsu, banyak uang yang ikut kerobek bersama amplop. Akhirnya saya dipensiunkan sama Budi dari pekerjaan membuka amplop. Saya cuma diijinin ngitungin.

Dari kartu nama-kartu nama yang keselip di dalam duit, ternyata banyak yang nggak kita kenal. Bukan teman saya, bukan teman Budi, bukan teman bapaknya Budi, bukan juga teman bapak saya. Belakangan kita baru dapat cerita dari rombongan pagar ayu. Ternyata memang banyak tamu nyasar ke pesta kita. Mereka sebenarnya tamu pengantin yang di ruang belakang, tapi malah dengan pede masuk ke area kita yang di depan. Huhuhu. Rejeki itu memang bisa datang dari mana saja ;)

Habis nikah kita jadi anak kost. Rayuan mertua untuk tinggal sama mereka, nggak mempan. "Kita ingin belajar mandiri," alasan Budi mantap di depan bapaknya. Padahal, dia cuma kepingin bisa mandi junub berulang kali dalam sehari tanpa merasa sungkan.

Menurut rencana, kita baru akan punya anak sekitar setaun lagi. Tapi karna pake sistem KB tarik manual, akhirnya kebobolan juga. Bulan Juni saya positip hamil. Gpp. Tuhan kan lebih tau apa yang baik untuk hamba-Nya.

Saya sering dengar ada istilah "rejeki anak". Mungkin ini juga yang terjadi sama kita. Budi keterima kerja di tempat yang sama sekali nggak nyambung dengan gelar sarjananya. Tapi dia senang kerja di sana. Pertama masuk sampe tujuh bulanan kemudian masi pake kemeja biasa. Skarang udah dapet seragam dan kenaikan bonus. Sip.

Abis nikah, selera makan dan logat bicara Budi berubah. Dulu dia Jawa sekali. Tiap hari di rumahnya pasti ada tempe dan tahu. Sekarang untung-untung bisa ketemu tempe sama tahu satu kali seminggu. Anggap saja itu sebage perkembangan. Dia sudah bisa makan sea food dengan lahap, menikmati masakan Padang, dan mau nyoba makanan aneh-aneh. Tapi tetap aja minta disediain krupuk.

Logat Jawanya juga memudar. Tiap hari saya teror dengan logat Kendari, akhirnya Budi ketularan. Kalo ngirim SMS pasti basanya berbau Kendari. Kalo ngomong sama saya juga jadi kecampur-campur. Perubahan lain, koleksi kaosnya berkembang pesat. Dia jadi rutin nyeleksi kaos yang saya dapat dari hasil liputan. Mana yang boleh dikasi-kasiin ke orang, mana yang akan jadi miliknya.

Hari ini, satu taun lalu, saya dan Budi nikah. Nggak ada yang lebih melegakan selain tau bahwa ini ternyata keputusan dan pilihan yang benar. Semoga Tuhan Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu akan terus melindungi dan memberkahi pernikahan ini. Amiiiin :)

0 comments: