
Jejak-Jejak Tsunami
Tiba-tiba semuanya jadi tidak berarti. Tugas kantor yang menumpuk, kerjaan rumah yang nggak ada habisnya, tulisan sudah jadi tapi harus diulang lagi karena halaman di server hilang menjelang deadline, dan masalah-masalah lain yang gampang bikin saya nyaris meledak. Semua tidak ada apa-apanya dibanding kesusahan rakyat Aceh yang terhantam tsunami.
Jumlah korban tewas akibat gempa tektonik yang melahirkan gelombang tsunami terus bertambah. Jika Minggu (26/12) tercatat sekitar 8.000 nyawa melayang, kemarin angka ini membengkak menjadi lebih dari 75.000. Mereka adalah penduduk Nanggroe Aceh Darussalam, Thailand Selatan, India, Maladewa, Sri Lanka, Malaysia, Bangladesh, dan Myanmar. Jumlah korban diyakini terus bertambah, mengingat banyaknya orang hilang yang belum juga diketahui keberadaannya (i hope no news means good news).
Korban terbanyak berasal dari Indonesia. Namun kerusakan parah terjadi hampir di semua wilayah yang tersapu tsunami. Jejak yang ditinggalkan tsunami memang luar biasa. Ribuan orang kehilangan keluarga dan sahabat tercinta. Tsunami juga tidak pandang bulu. Rakyat jelata sampai keluarga kerajaan ikut jadi korban. Satu di antaranya adalah cucu Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.
Di Indonesia, Markas Besar TNI langsung membuka posko informasi seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin mendapat informasi tentang keluarga mereka yang hilang di Aceh dan Sumatera Utara. Bantuan berupa pangan, selimut, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lain pun siap membanjiri lokasi bencana. Mari ulurkan tangan. Karena ikut prihatin saja tidak cukup.
Thursday, December 30, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment