Perfect is bored !

Monday, March 03, 2008
Mission Impossible

Saya kok mulai frustrasi memakai lingerie mewah ini. Bukan karena harga selembarnya hampir setara dengan sekaleng susu Ajeng. Tapi karena hasilnya tak kunjung kelihatan.

Saya jatuh cinta sejak pertama melihat. Transparan. Tipis dan lembut. Yang terpenting, lembar belakangnya tidak bergaris pinggir. Jadi, kalau dipakai dengan celana panjang yang bahannya lembut dan tipis pun, garis pinggir lingerie tidak akan terlihat. Dengan begitu (ini tujuan utama saya), orang akan mengira saya tidak pakai apa-apa di balik celana panjang.

Tapi sampai sekarang, setelah hampir setengah tahun memakai, kenapa sih tidak pernah ada orang yang bertanya: "Kamu nggak pakai CD kah, Pit?" Huh. Misi gagal.
posted by pipit @ 10:04 PM   4 comments
Friday, February 15, 2008
Laki-Laki Kebanyakan Mikir

"Kebanyakan mikir!"
Saya lupa pernah bilang begitu ke Ichal, waktu teman saya nan gagah ini mempercayakan sebuah curhat yang juga saya lupa isinya apa. Tapi dia ingat betul. Betul-betul ingat tentang curhat pertamanya hampir 15 tahun lalu itu, yang saya jawab dengan kesimpulan "Kebanyakan mikir!", persis seperti yang saya katakan pada dia beberapa hari lalu.

Ichal, laki-laki paling cakep yang mau menjadi teman saya, mendapat tawaran tugas ke Afghanistan. Dijadwalkan hanya dua minggu. Mengerjakan proyek pembangunan air limbah di area militer. Dan, pada saya, dia mengaku ragu berangkat dengan alasan takut mati. Itu setelah dia membaca semua berita terbaru menyangkut Afghanistan, yang bikin nyalinya ciut seperti penis baru selesai ejakulasi (Maaaaab kalau kurang sopan. Ini yang pertama kali terlintas di kepalaku untuk menganalogikan ciutnya Ichal).

"Kalau nggak berangkat hanya karena takut mati, lebih baik tinggal di rumah saja sampai sisa hidupmu," kata saya. Ichal setuju bahwa mati bisa terjadi di mana saja. Dan bahwa statusnya yang belum beranak-beristri akan lebih meringankan langkahnya untuk pergi ke sudut bumi manapun. Tapi dia tetap tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bekerja di negara Karzai itu.

Saya aslinya heran kenapa dia takut mati. Kalau saya yang takut mati, wajar. Bergelimang dosa. Tapi dia? Setahuku jauh benar dari godaan setan yang terkutuk. Ibadahnya bagus. Hubungan sama orang juga bagus. Tidak durhaka. Nurut pada orangtua.
Dan di antara teman laki-lakiku yang berwajah coverboy, hanya Ichal yang belum pernah pacaran. Satu kali pun. Maka dia kemungkinan besar juga belum pernah melihat perempuan telanjang langsung di depan mata. Belum pernah pegang-pegang. Belum merasakan dioral. Masih serba orisinil. Masa iya masuk neraka? :p

Saya hampir kehabisan akal untuk membujuknya menerima tawaran itu. Bayangkan berapa sedikit orang yang berkesempatan mendapat kepercayaan ditugaskan ke Afghanistan. Sampai saya akhirnya mengatakan, "Toh kalau ajal memang akan menjemputmu di sana Chal, setidaknya kamu akan mati dengan gaya."

Dia akan diberitakan seluruh media di Indonesia. Arsitek Jogja tewas tertembus peluru Taliban. Ganteng dan perjaka pula. Mending begitu daripada mati dengan tidak keren di Kemaraya, kampung asalnya di Kendari. Mati karena tergelincir dekat sumur. Atau nggak sengaja nelan biji cempedak. Atau tersedak air tebu. Halah. Iseng bener alasan matinya. Bikin kasihan malaikat pencabut nyawa saja nanti malah.

Ichal kemudian mengabarkan keputusannya menerima tawaran itu. "I'm so proud of u," kata saya. Saya doakan semua akan berjalan lancar. Karena kalau tidak lancar, saya tidak mau nantinya disalahkan sebagai pihak yang sukses membujuk dia. Saya paksa dia berjanji. Jika nanti benar akan mati di Afghanistan, tolong jangan hantui saya dong. "Dasar Yahudi," sungut Ichal.
posted by pipit @ 6:07 PM   3 comments
Sunday, February 10, 2008
Hati Yang Tertinggal

"Saya tidak paham kenapa redaktur seperti ini dipertahankan!"
Bayangkan apa yang saya rasa waktu mendengar kalimat itu diucapkan direktur pemilik koran tempat saya bekerja, di hadapan seluruh awak redaksi, dan redaktur yang dia maksud itu adalah saya. Meski ternyata, satu jam setelahnya, saya menerima SMS dari dia, bahwa dia (demi Allah, tulisnya) tidak tahu bahwa halaman yang kesalahannya dia soroti dalam rapat tengah malam itu, adalah garapan saya.

Saya tekanan batin. Bukan gara-gara teguran keras itu. Tapi karena tekanan batin yang memang sudah saya rasakan sejak 4-6 bulan terakhir. Saya merasa tidak lagi bekerja sepenuh hati. Tiap kali berangkat, begitu melangkahkan kaki keluar rumah, saya tahu sebagian hati saya tertinggal di sana bersama Ajeng. Dan bekerja tidak lagi serasa sedang bersenang-senang. Kali ini, dalam 4-6 bulan terakhir, saya merasa memang benar-benar sedang bekerja.

Saya ingin di rumah saja sama Ajeng. Kecintaan yang membuat saya bertahan tetap bekerja, lama-lama luntur sendiri. Bukan berarti saya berhenti menyukai menulis. Saya senang sekali menulis. Tapi tidak suka bekerja. Atau mungkin, lebih tepatnya, saya tidak suka jauh dari Ajeng.

Saya bayangkan akan sangat bahagia kalau bisa di rumah saja. Menemani dia dari bangun tidur sampai akan tidur malam. Tetap ada saat dia pulang main. Tetap ada saat dia bangun tidur siang (ini jadwalku melarikan diri, karena belakangan dia selalu menangis kalau ditinggal kerja. "Ibu kejanya (kerja) siang-siang!" pinta dia. Padahal, itu aja sudah hampir jam 14.30).

Kecintaan pada menulis akan saya salurkan dengan menulis cerita-cerita pendek anak-anak untuk Ajeng. Tentang bunga putri malu yang pemalu. Tentang semut penyuka gula-gula. Tentang pengalaman pertama Maryam ke dokter. Tentang laba-laba kecil memanjat pipa air. Apa saja.

Dan kecaman bos besar saya malam itu memang cukup bikin saya malu. Mending lari telanjang keliling lapangan siang hari. Tapi, harus saya akui, perkataan dia ada benarnya. Dan makian dia malam itu di hadapan semua reporter, fotografer, redaktur bahkan layouter akhirnya justru menjadi cambuk paling hebat untuk spirit saya yang kendor. Ayo semangat lagi! Mari bekerja pakai hati. Tidak ada gunanya berkhayal gaji Budi Rp 1 M per bulan, supaya saya bisa hidup berfoya-foya bersama Ajeng tanpa perlu ikut bekerja.

Toh pilihannya hanya dua. Kembali mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari.
posted by pipit @ 10:57 PM   0 comments

..:: Me ! Me ! Me !

Pipit

Perempuan

27 Tahun

Menikah

Nggak bisa bilang r

buatpipit@yahoo.com

..:: Last Post !

..:: Archive !

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

101 Things About Me

Childhood

My Best Kept Secrets

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

..:: Shoutbox


Free chat widget @ ShoutMix

..:: Partner Link